Tips Sederhana dalam Menulis

Penulis: syahid

Nyebur Dulu, Baru Berenang

Banyak orang yang ragu-ragu untuk memulai menulis. Ini tidak hanya dialami oleh para pemula, tapi juga dialami oleh penulis-penulis senior ketika mereka akan menulis lagi. Ketika akan menggoreskan beberapa kata di layar komputer, mereka ragu tulisannya nggak enak dibaca atau jelek dan sebagainya. Biasanya mereka duduk bengong di depan komputer tapi tidak satu kalimat pun dituliskannya.

Keadaan ini pun sering saya alami. Tapi biasanya keadaan ini saya dobrak saja. Artinya saya paksakan saja untuk menulis. Biasanya saya alami ketika dikejar-kejar Penerbit dan dikasih jatah waktu sekian hari untuk menyelesaikannya.

Hasilnya memang pada halaman-halaman pertama biasanya kualitasnya jelek. Tapi lama-kelamaan akan terbiasa. Suasana hati pun akan terbangun. Emosi kita pun terhanyut dalam tulisan-tulisan yang kita buat. Jadilah kita asyik berwara-wiri dengan tulisan kita. Dan jika sudah sampai dalam keadaan seperti ini, jangan harap deh kita bisa diganggu dengan kegiatan-kegiatan lain. Bahkan kita akan kuat duduk berjam-jam di depan komputer dalam waktu yang lama.

Dan keadaan ini pernah saya alami. Saya pernah tidak tidur semalaman hanya untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Bukan, bukan karena tulisan itu sangat mendesak. Tapi lebih karena keasyikan menulis tersebut. Dan jika keadaan tersebut dipotong dengan kegitan lain, apalagi kegiatannya sangat menyita pikiran, biasanya sangat sulit untuk membangun kembali suasana yang telah muncul tersebut.

Berani Gagal

Banyak juga orang yang takut tulisannya ditolak oleh media. Sehingga tulisan-tulisan yang mereka hasilkan hanya numpuk di kamar mereka saja. Mereka takut tulisannya dibaca orang, apalagi jika sampai dikritik.

Billi PS Liem dalam bukunya yang super laris Dare to Fail mengkritisi hal ini walau tidak secara explisit. Banyak orang di dunia ini yang tidak berani melakukan sesuatu. Mereka takut gagal. Jika mereka menulis, mereka takut tulisannnya jelek dan dihina orang. Atau jika mereka mengirimkannnya ke media, mereka takut tulisannya ditolak. Atau juga ketika tulisannya telah dikirim ke media dan ditolak, mereka lantas menyerah dan mencap dirinya ‘Tidak Berbakat Menulis’.

Padahal semua orang sukses yang ada di dunia ini rata-rata pernah gagal. Bill Gates yang merupakan orang terkaya di dunia versi Majalah Forbes (konon kekayaan bersihnya mencapai Rp 419,4 Trilyun, sekitar 4 x lipat APBN Indonesia) pernah berkata “Banyak orang hanya melihat keberhasilan saya. Padahal keberhasilan saya itu hanyalah 10 persen dari hidup saya. 90 persennya adalah kegagalan saya.”

Yup, kegagalan merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan untuk meraih sebuah gelar bernama ‘sukses’. Ibaratnya SKS yang harus diambil jika kita ingin lulus kuliah. Semua orang mengakui bahwa Anggeliqe Wijaya (Juara Tenis Dunia Wibledon Junior) mempunyai smash sangat kuat dan akurat. Tapi dibalik smash tajamnya itu adalah ribuan smash-smash yang nyangkut di net atau keluar lapangan ketika latihan. Atau juga Thomas Alfa Edison yang telah menemukan lebih dari 100 alat yang sangat bermanfaat bagi manusia sekarang ini. Salah satu penemuannya adalah lampu bohlan. Dan dalam experimennya menemukan lampu bohlan tersebut, Kang Edi (begitu sapaan akrab Edison seandainya masih hidup dan ada di hadapan saya) mencoba 2000 kawat. Dan ternyata kawat yang ke 2000-lah yang ternyata bisa menghantarkan listrik dan berpijar. Coba bayangkan, seandainya Kang Edi menghentikan percobaan pada langkah ke 1999, mungkin kehidupan yang terang benderang ini tidak akan pernah ada. Mungkin.

Lalu bagaimana dengan kamu? Apakah kamu masih takut untuk menulis dan mengirimkannya ke media? Jika sudah, berapa yang ditolak? Satu, dua, atau tiga karya? Dan apakah kamu masih menganggap kamu ‘tidak berbakat’ ketika tulisannmu ditolak? Pasti tidak kan?

Saya pribadi pernah mengirimkan karya hampir lima belas kali ke media. Semuanya ditolak. Baru kira-kira yang keenam belas kalinya dimuat. Saya juga pernah tiga kali mengikuti perlombaan kepenulisan, dan selalu kalah. Baru yang keempat kalinya menjadi Juara.

So, keep fight! Jangan mudah menyerah.

Tiga cara untuk menjadi Penulis : Menulis, Menulis, dan Menulis

Penulis Amerika Getrude Stein mendefinisikan arti menulis dengan menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah…, dan seterusnya. Kuntowijoyo pernah berkata bahwa hanya ada tiga cara untuk menjadi penulis, yaitu menulis, menulis, dan menulis. Helvy Tiana Rosa pernah berkata bahwa yang mutlak dilakukan oleh seorang penulis adalah banyak membaca dan kemudian [latihan] menulis.

Ya, tidak ada jalan singkat untuk menjadi penulis kecuali menulis. Menulis untuk yang ke-satu adalah bangku kuliah untuk kemudian teori-teori yang didapatkannya dipraktekkan pada menulis yang ke-dua. Menulis yang kedua adalah bangku kuliah yang teori yang didapatkannya dipratkekkan pada menulis ketiga. Begitu seterusnya.

Pikiran Bawah Sadar: Sumber Kreativitas

Yang biasa saya lakukan sebelum memulai menulis adalah berbaring di kasur, kemudian membiarkan pikiran ini ‘mengembara’ dengan sendirinya tanpa dikendalikan dan kemudian ide-ide kepenulisan itu datang mengalir. Kok bisa sih?

Ya, kegiatan inilah yang biasanya dinamakan dengan menggali Pikiran Bawah Sadar. Dalam buku Piece of Mind, penulisnya mengatakan bahwa Pikiran Bawah Sadar adalah sejumlah memori yang mengendap dan mengkristal dalam jaringan otak yang paling dalam.

Pikiran-pikiran di pikiran bawah sadar ini akan mengalir ke dalam otak sadar kita kalo kita memanggilnya. Pikiran-pikiran ini hadir dalam benak kita berupa ide-ide cemerlang tentang sesuatu, kreativitas, alur cerita, dan banyak lagi.

Intuisi dan Revisi : alat pengontrol kualitas

Jangan pernah ragu untuk menulis karena kita tidak punya teori. Sebagian besar penulis menulis tidak dengan teori. Bahkan penulis novel LUPUS dan OLGA, Hilman Hariwijaya berkata: “Kalau anda mau menulis, ya menulis saja. Tak perlu terpaku pada kaidah-kaidah atau teori-teori. Setelah jadi, biar para pemikir dan kritikus yang mencarikan teori apa yang kamu pakai.”

Ada juga pendapat lain dari William Forrester. Beliau berkata “Menulislah—pada saat awal—dengan hati. Setelah itu, perbaiki tulisan kamu dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berfikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang Anda rasakan.”

Saya sepakat dengan kedua penulis senior ini. Jika mau menulis, ya menulis saja. Jangan pikirkan teori. Saya pribadi memang termasuk orang yang membaca teori. Ada sekita 6 buku teori kepenulisan yang pernah saya baca. Tapi pada saat menulis, teori-teori itu serasa terbang entah kemana. Jarang saya pakai.

Bagus tidaknya tulisan kita, justru bisa kita rasakan oleh kita sendiri. Istilah kerennya mungkin Intuisi. Biasanya saya tidak peduli dengan apapun saat nulis untuk versi pertama. Baru setelah itu saya baca ulang. Di sinilah intuisi bermain. Merasakan apakah tulisan saya ini enak dibaca atau tidak. Jika ada sesuatu yang tidak sreg, saya akan men-delete-nya dan menggantikan kalimat yang kurang bagus tadi dengan kalimat yang lebih canggih. Kegiatan itu terus saya lakukan berkali-kali. Kegiatan inilah yang dinamakan dengan Revisi. Saya tidak akan mengirimkan ke media sampai saya merevisinya berulang kali dan tidak ada kejanggalan lagi dalam tulisan saya. Bahkan jika untuk sebuah perlombaan, revisi pada tulisan tersebut saya lakukan sampai 25 kali.

Oke, selamat menulis ya….!

Tulisan ini disampaikan dalam acara Pesantren Liburan Mahasiswa XVII Se-Jawa Barat dan Banten DKM UNPAD di Islamic Centre Sumedang, Rabu 22 Juni 2005

Iklan

TIPS DAN TRIK EDISI 2

Tips Dan Trik Cara Belajar Yang Baik

Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam pelajaran berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa PR / pekerjaan rumah. Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar waktu memiliki dampak yang tidak baik.
Berikut ini adalah tips dan triks

yang dapat menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau ujian :

1. Belajar Kelompok
Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.

2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.

3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.

4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.

5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman. Selain itu
6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.

7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam/ begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.

8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.