Mengasah Empati Berbagi Simpati

Tazkiyatun NufusOleh:Dr. Setiawan Budi Utomo


dakwatuna.com– Sering kaliseseorang menilai dengan parameter subjektif dan melihat orang lain dengankacamata kuda sehingga tidak jarang salah memahami dan menyikapi peristiwasecara tidak arif. Hal itu karena minimnya kesadaran empati dalam memahamikelemahan, kesalahan, kekurangan, kejahilan dan kenaifan orang lain yangsebenarnya boleh jadi merupakan ujian kepekaan dan kejelian dalam mendulanghikmah dan pelajaran di balik berbagai peristiwa yang dilakoni orang lain tadi,alih-alih menjulurkan simpati. Empati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa ataumengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama denganorang atau kelompok lain. Simpati dalam KBBI diartikan sebagai:

1.rasa kasih; rasa setuju (kepada); rasa suka

2.keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dsb) orang lain: rakyat yangmenderita akibat bencana alam itu mendapat simpati dari berbagai kalangan.

Suatuketika para sahabat yang sedang berada di masjid Nabawi terusik kesyahduandzikir mereka dan spontanitas bereaksi emosional tatkala seorang laki-laki Arabbadui tiba-tiba berulah kencing di dalam masjid yang saat itu lantainya masihberupa tanah. Demi melihat situasi panas tersebut Rasulullah saw dengan penuhempati dan kelembutan menyikapi dan meluruskan peristiwa tesa dan antitesasikap reaksi berang sahabat dan aksi bodoh Arab badui tersebut. Beliaumemerintahkan para sahabat untuk bersabar dan membiarkan Arab baduimenyelesaikan hajatnya serta meminta mereka menyiram bekas kencingnya agarmerembes ke tanah dan hilang najisnya. Setelah situasi reda dan dapat diatasi,Rasulullah segera memanggil mereka semua. Beliau memberikan bimbingan kepadapara sahabat tentang sikap empatik yang akan membawa hikmah yaitu denganmemaklumi ketidaktahuan Arab badui tersebut, menyadari reaksi kesabaran akandapat menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.

Parasahabat akhirnya mengerti bahwa sikap empati yang membuahkan solusi masalahdengan menyiram dan membersihkan kencing sebagai pelajaran bagi si badui bahwaperbuatannya tidak benar yang telah mengotori tempat yang seharusnya dijagakesuciannya. Selain itu, mereka menyadari bahwa bersabar menanti selesainyakencing si badui akan menghindari tiga mudharat yakni gusarnya si badui yangmerasa terusik hajatnya, menyakiti saluran kencing si badui yang terganggukelancarannya, dan meluasnya area najis akibat kepanikan si badui dalammenuntaskan hajatnya. Kepada si badui Nabi saw memberikan pemahaman secarahalus bahwa perbuatannya tidak benar karena telah kencing di masjid dan itutidak pada tempatnya sebab masjid dibangun sebagai tempat suci untuk dzikrullahdan shalat. Jelang mendapat penjelasan empatik Nabi, si badui sangat terpesonapadanya dan sebaliknya masih kecewa dengan sikap berang sahabat seraya berdoa“Ya Allah masukkanlah aku dan Muhammad ke dalam surga dan janganlah Engkaumasukkan ke dalamnya seorang pun selain kami.” Lagi-lagi demi mendengar doayang tidak arif itupun nabi menyikapinya dengan penuh empati demi melihatkenaifannya tanpa membodoh-bodohkannya seraya meluruskan doanya: “Wahai kamu,ketahuilah bahwa surga itu sangat luas dan jika kita berdua saja yang masukniscaya akan sangat kesepian”.

Padasaat yang lain, kita saksikan sejarah Nabi yang telah membuktikan samudera jiwaempati tatkala seorang laki-laki dengan langkah tergesa-gesa menghadapnya.Nafasnya masih tersengal, turun-naik, sementara jantungnya berdetak cepat.Rasulullah menyambutnya dengan penuh santun. “Celaka bagi kami, wahaiRasulullah,” begitu ia mengawali pembicaraannya. “Aku telah melakukan hubungansuami-istri di siang Ramadhan.” Nampaknya lelaki ini sadar bahwa perbuatannyatelah melanggar syariah, yang karenanya ia harus menerima sanksi Rasulullahkemudian memberi petunjuk agar lelaki itu memerdekakan seorang budak. Lelakitersebut menggelengkan kepala tanda tidak sanggup melaksanakannya.

MakaRasulullah memberikan alternatif kedua, yaitu puasa selama dua bulanberturut-turut. Lagi-lagi lelaki tersebut menggeleng. Ia merasa tidak mampu untukmelakukannya. Dalam hatinya ia berkata, ‘Jangankan dua bulan, sedang yang satubulan saja sudah dilanggar.’ Rasulullah menawarkan solusi ketiga, yaitu memberimakan 60 orang fakir miskin. Untuk yang ketiga kalinya ia mengatakan tidaksanggup. Ia katakan bahwa untuk kebutuhan makan sehari-hari saja sudah seringmendapati kesulitan. Apalagi harus memberi makan kepada orang lain.

Denganpenuh kasih sayang Rasulullah kemudian memanggil istrinya agar mengambil bahanmakanan yang masih tersisa di rumahnya hingga cukup untuk menebus kewajibanlelaki tersebut. Sambil memberikannya, Rasulullah berpesan agar bahan makananitu dibagikannya kepada fakir miskin di kampungnya. Dengan sedikit menahanmalu, lelaki tersebut berkata polos, “Di kampung kami, orang yang paling miskinadalah saya sendiri.”Kepolosan lelaki itu ternyata membawa berkah tersendiri.Rasulullah menyampaikan agar bahan makanan itu diterima dan dimanfaatkansepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya. Ia pulang dengan perasaansuka cita. Selain mendapatkan bahan makanan, puasanya juga sudah tertebus. Duakeuntungan sekaligus diperoleh, keuntungan materi sekaligus keuntungan ukhrawi.

Kisahseperti ini rasanya sulit dimengerti untuk ukuran sekarang. Bagaimana seorangpemimpin dapat berlaku begitu santun. Sulit ditemukan sosok pemimpin yangluwes, lapang dada, santun, dan sabar memenuhi segala tuntutan ummatnyasebagaimana Rasulullah. Andaikata menemui lelaki seperti dalam kisah di atas,barangkali kita akan menghardiknya dengan kata-kata kasar, “Sudah tahu tidakmampu menebus dendanya, kenapa kamu sampai melanggar?” Atau kita katakan,“Pokoknya itulah ketentuan syariat, titik. Dengan cara apapun harus kamuupayakan. Pokoknya nggak mau tahu salahmu sendiri melanggar. Rasain sendiriakibatnya habis macam-macam saja.” Jangankan ikut membantu meringankan bebannyadengan memberi bahan makanan, memberi santunan dengan kata-kata yang halus danmenghibur saja mungkin sulit kita lakukan.

Disinilah terletak rahasia sukses kepemimpinan Rasulullah. Beliau bisa bersikaptegas, tapi lebih sering bersikap lemah-lembut kepada ummatnya. Justru sikapyang terakhir itu lebih dikedepannya dalam menghadapi setiap persoalan. Beliaubisa marah, tapi sikap pemaafnya jauh lebih luas dari segalanya. Apalagi jikaberhadapan dengan sesama ummat Islam. Allah sendiri menegaskan: “Muhammad ituadalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah kerasterhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka.” (QS.al-Fath: 29)

Itulahsebabnya Rasulullah sangat dicintai ummatnya. Saking cintanya, dalam sebuahbai’at, seorang lelaki pernah mengatakan, “Andaikata kita menyeberangi lautandengan kapal, kemudian di tengah lautan kita diperintahkan oleh Rasulullahuntuk mencebur ke laut, pasti kita lakukan.” Kepada ummatnya, Rasulullah selalumengedepankan sifat kasih sayang. Beliau berusaha mempermudah ummatnya dalammelaksanakan syariat agama. Bukan sebaliknya, memberi beban yang akhirnya takmampu dipikul oleh mereka.

KetikaIsra’ dan Mi’raj Rasulullah menyampaikan usulan kepada Allah agar ummatnyadiberi beban yang tidak terlalu berat dalam menunaikan ibadah shalat. Akhirnyaditetapkan shalat lima kali dalam sehari, sebagai suatu kewajiban yang sangatringan. Jika masih ada yang merasa keberatan, barangkali nafsunya yang terlaludominan.

Suatusaat beliau hendak mewajibkan bersiwak (gosok gigi) bagi kaum muslimin setiaphendak mendirikan shalat. Akan tetapi karena takut kewajiban itu memberatkan,maka akhirnya tidak beliau undangkan, meskipun bersiwak itu manfaatnya sangatbesar dalam upaya menjaga kesehatan. Bagi yang bersiwak disiapkan pahala besar,sementara yang tidak melakukannya juga tidak diancam apa-apa. Akhirnya bersiwakhanya menjadi anjuran. Sikap demikian itu sejalan dengan ketentuan Allah, yangdinyatakan dalam al-Qur’an: “Allah menginginkan kemudahan bagimu, dan tidakmenginginkan kesulitan bagimu.” (QS. al-Baqarah: 185)

KetikaRasulullah mengutus dua orang sahabat, yaitu Abu Musa dan Mu’adz ke Yaman untukberdakwah, beliau berpesan, “Gembirakanlah dan jangan kau takut-takuti.Mudahkanlah dan janganlah engkau mempersulit.”

Tugasseorang da’i, muballigh, ustadz atau guru agama adalah memberi jalan kemudahanbagi ummat Islam agar dapat menjalankan perintah Islam dengan sebaik-baiknya.Dalam hal ini, seorang juru dakwah wajib mempunyai bekal ilmu yang cukup, disamping sikap yang arif. Ilmu yang luas menjadikan seseorang lebih bisabersikap luwes dan lapang dada. Sementara ilmu yang hanya pas-pasan biasanyamendorong seseorang bersikap keras dalam menghadapi suatu persoalan.

Luasnyailmu dan wawasan akan nampak dalam sikapnya yang toleran. Dalam menghadapipersoalan ia tidak hanya menyodorkan satu alternatif, tapi tersedia berbagaipilihan. Orang lain diberi kebebasan untuk memilih sesuai kadar iman dan kemampuannya.

Allahsendiri ketika menyerukan hamba-Nya untuk bertaqwa, Dia menggunakan dua kalimatperintah. Pertama, Allah berfirman, “Bertaqwalah kamu sekuat kemampuanmu.”Kedua, Allah berseru, “Bertaqwalah kalian dengan sebenar-benar taqwa, danjanganlah kalian mati sehingga kalian benar-benar Islam.” Yang pertamaditujukan kepada mereka yang kadar imannya masih dalam proses penyempurnaan,sementara firman kedua ditujukan kepada mereka yang sudah siap menerima segalaperintah dan larangan-Nya tanpa reserve.

Nabisaw juga menerapkan hal sama. Dalam menghadapi satu pertanyaan yang diajukanoleh dua orang berbeda, jawaban Nabi juga selalu berbeda, disesuaikan dengankadar akal dan imannya. Nabi tidak memaksakan seseorang menerima hal yang sama,padahal kemampuan mereka untuk menerimanya sangat jauh berbeda. Di siniRasulullah sangat memperhatikan “proses”, bukan hasil semata-mata.

Dalamkaitannya dengan persoalan di atas, dianjurkan kepada juru dakwah, guru agama,atau muballigh agar lebih bijak dalam menyampaikan persoalan-persoalan agama.Jika ada dua pilihan, kenapa harus kita pilihkan satu saja? Bukankah merekajuga berhak memilih sesuai dengan kondisi dan keadaannya?

Bahkandalam hal ini, jika ada dua perkara yang sama-sama diperbolehkan oleh syariat,hendaknya kita memilih yang termudah. Kita tidak boleh bersikap terlalu keras,karena yang demikian itu justru menyimpang dari sunnah. Sikap tasyaddud,ekstrim, dan berlebih-lebihan sebagai cerminan kerasnya hati dan keringnya rasaempati sama sekali tidak disukai oleh Rasulullah. Selama tidak mengandung dosa,Rasulullah lebih memilih yang termudah dari dua perkara yang sama-sama boleh,ibahah. Sikap itulah yang hendaknya kita pilih, bukan sebaliknya. Dalam sebuahpesannya, beliau bersabda: “Hendaklah kamu bersikap lemah-lembut dan janganbersikap kasar. Sesungguhnya, tidaklah sikap lemah lembut itu ada pada sesuatukecuali menghiasinya, dan tidak pula ia lepas dari sesuatu kecualimengotorinya.” (HR Muslim)

Sikappara elit, tokoh, ulama, da’i, muballigh, pemimpin dan guru yang lebih menyukaisesuatu yang berat dan minim jiwa empati dalam menjalankan dan menegakkanrisalah kebenaran pada dasarnya tidak sesuai dengan sunnah, keluar dari teladanRasulullah saw. Sikap demikian sesungguhnya lebih terkait dengan kejiwaan.Itulah sebabnya, seorang muslim dianjurkan untuk terus-menerus melakukanpembersihan hati, tazkiyah, agar memiliki jiwa yang bersih, dada yang lapang,dan hati yang dipenuhi rasa kasih dan sayang.

Jikaada benih-benih keinginan untuk mempersulit atau memperberat suatu perkara,hendaknya para da’i segera meminta perlindungan dari Allah, memperbaharui iman,dan mensucikan hati dari sifat dendam dan iri hati. Jauhkanlah diri dari tipudaya setan. Sesungguhnya kita memerlukan ruh dari langit sehingga dapatmenempuh jalan dien ini dengan mudah. Hal itu dapat kita peroleh jika kitamemenuhi rongga dada kita dengan sifat kasih sayang, terutama pada dirisendiri. Caranya, jangan memaksakan diri, tidak mengangkat beban di luarkemampuan kita yang sebenarnya. Jika terhadap diri sendiri, kita sudah bersikapkasih dan sayang, maka kepada orang lain juga kita kembangkan sikap yang sama.Kasih sayang itu akan mengarahkan kita kepada sikap yang menghormati kemampuandan keterbatasan orang lain. Jika dengan semua orang kita harus bersikap empatitermasuk dalam merealisasikan dan menyebarkan pemikiran dan pemahaman kita,maka dengan orang-orang terdekat yang kita kasihi seharusnya lebih sensitif danpeka dalam empati dan tidak asal memaksakan kehendak dan ego.

StephenR. Covey (1999) mengingatkan kita untuk memahami implementasi makna empatisecara benar. Kebanyakan dari kita tidak berusaha untuk memahami dahulu, tetapisebaliknya ingin dipahami dahulu posisi dan pemikiran kita. Atau jika kitaingin berusaha memahami, kita sering sibuk mempersiapkan tanggapan kita danreaktif saat kita menyaksikan kejadian, menghadapi sikap atau mendengarkanpernyataan orang lain. Jadi, kita lebih sering mengevaluasi, menyarankan,menyelidiki, atau menerjemahkan dari sudut pandang kita sendiri sebelummemahami konsideran sikap dan peristiwa serta kesejatian masalah. Dan tidaksatu pun dari ini adalah tanggapan empatik yang memahami. Semuanya berasal darikesejatian diri kita, dunia kita dan nilai-nilai kita secara searah.

Dalamrangka mengasah empati itulah diperlukan riyadhah melatih diri dalam memberipetunjuk kepada siapa saja yang mendapati kesulitan, memaafkan atas semuakekhilafan, berlapang dada atas segala kealpaan, menuntun orang ke jalan yangterang tanpa harus mencari-cari kesalahan dan membuka aibnya. Bukankah Allahselalu berpesan: “Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaranyang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya TuhanmuDialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya danDialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.An-Nahl:125), dan telah menegaskan: “Siapakah yang lebih baik perkataannyadaripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, danberkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS.Fushshilat:33). []

SISWA MEMBAYAR ONGKOS PARKIR DISEKOLAH


Pernahkah terbayang dibenak anda, berapa pendapatan pemerintah dari perolehan parkir yang ada di jalan raya, belum lagi dari pajak yang peroleh dari parkir yang dikelola swasta . Tentunya tidaklah sedikit. Ketika mengangan- angankan tentang pendapatan parkir, saya tergelitik memperhatikan banyaknya motor yang terparkir dihalaman kelas di SMP 6 Jember. “kalau satu motor Rp. 500 atau Rp.1000 dalam sebulan bisa terbayang berapa penghasilan sekolah ini, lumayan bisa digunakan untuk kegiatan siswa” bayanganku sambil tertawa-tawa sendiri.

Saya ingin mengajak teman-teman semua keluar kelas, dan coba perhatikan halaman kelas kita, tak lagi nyaman untuk

bermain atau sekedar berjalan-jalan melepas penat ketika usai belajar/istirahat. Bila ditanya kenapa? Jawabannya jelas karena halaman kelas kita sudah dipenuhi oleh motor-motor para siswa dan juga motor bapak /ibu guru serta karyawan SMP 6 Jember.

Sudah tidak ada lagi halaman kosong di sekolah ini. Jangankan untuk bermain bola, upacara bendera tiap hari senin saja kita harus berdesakkan, sampai-sampai telinga kami tebal akibat seringnya dimarahi oleh bapak ibu guru yang jengkel melihat tingkah kami pada saat upacara yang sulit sekali tertib. “mohon maaf bapak dan ibu guru, bukannya kami tidak bisa tertib, namun situasi yang mengkondisikan kami seperti ini”. Selain tempat olahraga dan upacara yang menemui kesulitan, kami juga kesulitan berekspresi dilingkungan sekolah yang kian menyempit saja rasanya.

Dalam khayalan sempat terfikir, saya membuat lahan parkir di bawah tanah di SMP 6 Jember, lalu bagi siswa yang mau parkir motor harus membayar ke saya hehehehhe….”bisa kaya dong”. itu karena sudah tidak ada lagi jalan keluar yang bisa diambil dari logika berfikir saya, jangankan saya, bapak kepala sekolah saja masih pusing memfikirkannya kecuali alternative ekstrime yakni siswa dilarang membawa motor ke sekolah….ekstrime sekali mungkin pendapat saya….tapi mau bagaimana lagi, sedang tempat

parkir kita sudah berubah menjadi gedung. Apakah teman-teman punya saran…..? nah silahkan kirim ke kotak redaksi keris sena….biar bukan hanya saya yang pusing hehhehehe……..


Bersama Keris Sena

(Menyapa dan berkarya)
Oleh : Zulaicha VIII-A
__________________________________
Membuka lebar demi lembar halaman majalah Keris Sena dari awal terbit sampai pada ahir penerbitan, melihat kembali tiap coret dan refisi redaksi yang tersimpan di arsip naskah Keris Sena yang menumpuk di ruang labaratorium komputer karena majalah sekolah ini masih belum memiliki kantor sekretariat, dan membaca setiap dokumen yang tersimpan dalam file pada folder Keris Sena. Aku bisa rasakan begitu beratnya tugas para kakak senior juga bapak dan ibu guru yang telah memperjuangkan eksistensi Keris Sena waktu itu. Susungguh tak terfikir olehku bahwa begitu rumitnya proses memproduksi dan memasarkan majalah sekolahku “Keris Sena”, hingga menepis semua prasangkaku terhadap

semua yang terjadi selama ini.
Jujur sering kali selama ini aku menggerutu dalam hati, karena menunggu majalah sekolah yang gak terbit-terbit, sering juga kekecewan itu hadir ketika apa yang termuat di majalah jauh dari harapanku, bahkan tidak dipungkiri terkadang dulu ketika majalah terbit, ingin sekali aku mendapatkannya tapi malas untuk merogoh kocek untuk mengganti ongkos terbitnya.
Kini jelaslah sudah, apa yang aku gundahkan selama ini mengenai majalah sekolahku. Jikalau dulu ketika majalah terbit aku dengan jeli meneliti setiap kesalahan yang ada dan seolah pakarnya aku mengkritik dan berkata dalam hati “seandainya saja aku terlibat dalam produksi majalah sekolah ini pasti karyaku lebih bagus dari ini semua”.
Terdorong dari perasaan itu akhirnya aku putuskan untuk mengikuti ekskul jurnalis, setelah melalaui banyak kejadian dan pengetian tetang jurnalis serta suka duka mengelelola majalah sekolah, baru aku merasa bahwa aku terlalu naif untuk menggerutu dan menghakimi majalah yang secara langsung atau tidak langsung telah mewarnai dan meramaikan sekolahku SMPN 6 Jember. Apalagi setelah melalui pemilihan anggota jurnalis dan terpilih sebagai ketua redaksinya aku bisa merasakan begitu berat sekali perjuangan para seniorku terdahulu.
Menjadi ketua redaksi majalah Keris sena merupakan Amanah yang bergitu berat bagiku karena aku harus meyakinkan para anggota jurnalistk yang juga hampir putus asah karena setiap karyanya sering pupus karena tidak terpublikasikan. Selain para anggota, aku juga harus berjuang menyakinkan kembali kepada teman-teman siswa-siswi SMP 6 Jember mengenai keberadaan majalah Keris Sena yang telah lama hilang dari ingatan mereka, juga meyakinkan kepada bapak ibu guru yang mungkin saja telah lupa kalau dulu mereka juga membanggakan majalah sekolah ini.
Membuka kembali setiap naskah yang telah terkumpul di arsip redaksi meyakinkan aku bahwa perjuangan ini harus segera dimulai kembali sebelum nama “Keris Sena” sirna tertelan kenangan yang terlupakan.
Semoga prasangka dan kritikan yang dulu pernah aku pelihara tidak lagi dimiliki oleh teman-teman siswa-siswi SMPN 6 Jember. Karena semuanya kini telah nyata dan yang terpantas adalah apa yang kita berikan untuk menjadikan sekolah kita ini membanggakan untuk di kenang dan membanggakan ketika di ceritakan nanti ketika kita bernostalgia. Selamat berkarya teman-teman. Karena dengan karya kita maka kebanggaan itu lahir tanpa rekayasa dan dengan dengan karya yang nyata kita tunjukan bahwa kita hidup indah berwarna.
Icha Ketua redaksi Keris sena 2009.

ERWIN MURIDKU YANG SPESIAL

Wajahnya biasa saja…., tak ada yang istimewa, penampilannya juga biasa saja namun dia berkarakter, badannya biasa saja namun beda…, itulah pandanganku sekilas tentang murid fenomenalku yang sekrang duduk di kelas IX dikelas yang unik IX-d dan barada di no Absen 13 suatu nomor yang di bilang angker…, Pemilik nama lengkap ERWIN KURNIA ZUKARNAIN Adalah

sosok yang begitu luarbiasa bagi catatan semua guru kelas 3 utamanya yang mengajar di kelas IX. erwin, yang wajahnya biasa saja ini ternyata memiliki daya tarik tersendiri bagi semua guru atau teman-temannya, terbukti banyak guru dan siswa yang mengenalnya dengan baik, penamilannya juga begitu berkarakter karena memiliki ciri khas baju yag selalu di keluarkan seperti layaknya anak sekolah suasta dan berada di pingiran desa yang pelosok sekali. badanya biasa saja namun beda dia keliahatn kurus terkesan sebagai seorang yang ahli puasa.
Erwin…ada-ada saja kamu….gerutuhku dalam hati ketika masuk kelas dan memanggil dia karena kesalahan yang dia buat.
banyak guru dan teman-teman berpendapat dia nakal sekali…tapi menurut saya normal saja bahkan dia cerdes…kenapa cerdes…? ya karena di pandai bersituasi….dia tau kalau bersalah sehingga dia menunukkan wajahnya dan berusaha menarik simpati untuk siapa saja orang yang yang dihadapannya itu mau dengan legawa memaklumi kesalahnya, beda sekali dengan muridku yang lain yang sudah jelas bersalah tapi berusaha untuk menutupi dan berkilah lalu mamasang wajah angker seolah bapak atau ibu gurunya itu anak kecil yang mudah di gertak dengan penamilannya yang seperti jin (menakutkan) tapi itu tidak dilakukan oleh erwin murid ku yang paling setia…lho kok setia mungkin pertanyaan itu terlepas begitu saja pada benak anda, benar erwin si pemilik nomor absen 13 ini sangat setia dan konsisten bagi saya karena tiap kali masuk kelasnya selalu saja erwin menemani untuk berdiri di sampaing saya sehingga terkesan selayaknya ajudan dan saya adalah persidennya. lho kenapa dia selalu berdiri didekat saya..ya..karena dia selulu setia dengan berbagai kesalahannya sehingga saya memanggilnya untuk berdiri di dekat saya…hal ini membuat PD saya karena yang dilihat teman sekelas bukan lagi Pak Nurul yang menjengkelkan tapi juga ada erwin si bintang kelas yang begitu memukau.
Tapi erwin merupakan sosok pribadi yang asik untuk membangkitkan imajinasi untuk berkarya dan berfantasi…kok begitu ? iya.., karena setiap kegiatannya begitu menarik perhatian saya selaku gurunya. contohnya seuatu hari saya melihat erwin sedang berangkat sekolah dia di bonceng seorang wanita yang menurut saya adalah mamanya, dari belakang saya terus mengikutinya kelihatan sekali dari belakang Erwin sosok yang begitu penurut dan pendiam di hadapan mamanya, sedang mamanya memacu sepeda motor dengan santai dan hati-hati dan erwin dengan sabar dan setia berada diboncengannya “padahal aku pikir dia tidak akan sabar dan meloncat dari boncengan mamanya dan lalu berlari menuju sekolah” tapi ternyata tidak dia begitu sabar meskipun si thera siswi dari kelas lainnya menyalip dia layaknya raja jalanan dan seolah menunjukan pada erwin “Akulah penguasa jalanan dan erwin adalah debu jalanana”. sesampai di pintu gerbang saya terus mengamati Erwin yang penurut turun dari motor lalu bersalamana seraya mencium tangan mamanya, lalu mama mengluarkan uang dan di berikan kepada erwin. sekilas melihat pemandangan itu aku seolah tidak percaya seorang Erwin yang terkenal nakal, usil dan jagoan di SMP 6 Jember ini ternyata sosok yang begitu lugunya di hadapan mama tercinta begitu nurut, begitu kecil di hadapan mamanya. Pemangdang ini sebenarnya biasa saja…tapi karena pelakunya adalah ERWIN seorang jagoan neon di sekolah ini maka pemandangan itu menjadi istimewa dan layak menjadi contoh bagi siswa-siswa nakal lainnya yang merupakan anak buah erwin. Erwin benar …sesukses apaun seseorang, sekaya apapun, memiliki jabatan penguasa seluas apapun dia tetaplah anak bagi seorang ibu…” dan ingat sorga ada di telapak kaki ibu. dan buat erwin muridku yang paling baik, terima kasih kemarin sudah mengumpulkan tugas meski sudah hampir setahun Pak Nurul menunggu kamu mengumpulkan tugas komputer. Terima kasih juga karena kemarin mau Nurut tidak pulang dulu untuk menerima tambahan pelajaran dari gurumu yang menjengkelkan ini meskipun teman-tamanmu yang pada waktu itu berdiri dikelas bersamamu tidak hadir memenuhi tugasnya sepulang sekolah.dan tetaplah jadi jagoan, nakal dan berkarakter namun tetap memiliki prinsip dan bisa menepatkan situasi. karena nakal di seusiamu ini lebih wajar di bandingkan oleh beberapa orang tua yang tidak tau umur yang masih saja nakal. tapi Lebih bagus lagi bila saja kamu tidak nakal dan menjadi baik seperti pemandangan yang dilihat Pak gurumu ini di gerbang sekolah pada waktu itu. sukses buat Erwin dan semoga di ikuti oleh anak buahnya. bagamana pendapat mu tentang Erwin ini …?
DI KIRIM OLEH PAK NURUL 19 FEB 2009

MEMBAKAR SEMANGAT DI UPACARA BENDERA HARI SENIN DI SEKOLAH

Upacara Bendera hari senin..

Seperti biasa tiap hari senin disekolah melaksanakan kegitan rutin upacara bendera. Pada kegiatan ini kita di ajak untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang dengan gagah berani merebut kemerdekaan bangsa dan dengan tumpahan darah mengibarkan sang saka Merah putih.
Namun apa yang terjadi…

.
Kegiatan ini menjadi kegitan yang berjalan tanpa makna…tak lagi di jumpai semangat membara ketika sang saka dikerek di tiang tertinggi. Semua sibuk berbincang.
Bukan hanya siswa, bapak dan ibu guru yang kebetulan berdiri ditempat yang lebih sejuk tanpa sengatan matahari juga ada yang asyik menerima telp, dan terkadang beliau meninggalkan barisan masuk kedalam ruangan.
Seandainya saja di sekolahku memiliki tanah lapang yang luas..sehingga bisa menampung semua siswa dan guru untuk melaksanakan kegitan rutin upacara. Dengan adil, (sama-sama tersengat matahari) mungkin upacara ini lebih khusuk, karena semangat kita sama-sama terbakar dan bergejolak memekikkan kata “merdeka”
Bukan hanya begitu, kulit kita pun juga akan berteriak dan benar-benar meresapi makna sebuah pengorbanan dari mahalnya kemerdekaan

Bagaimana menurut teman-teman….

CINTA….

Cinta….sebuah kata yang begitu indah untuk dilantunkan baik dalam sair, puisi atau opini cinta tidak pernah kehabisan tempat. Dimana pun cinta di ucap maka disitu akan terjadi kehidupan.
Memang kehidupan ini sendiri terlahir oleh

cinta, dan oleh karenanya cinta tidak akan hilang ketika hidup itu masih tertoreh…
Apa pendapatmu tentang “Cinta”

KERINDUAN YANG TERBELI

Dengan Teknologi hidup menjadi muda…perkatan ini memang sangatlah benar, bahkan benar sekali, atau bisa di ucapkan dengan “Sangat Benar Sekali”. Kenapa begitu…tidak perlu di bahas kita sudah merasakannya setiap hari.
Namun teknologi juga membuat kerinduan tak lagi menjadi suatu perasaan yang dahsyat..,
Kenepa begitu

…:
Hari Minggu saya berniat pulang ke kampung halaman di Ambulu, walaupun jaraknya tidak terlalu jauh tapi keinginan untuk pulang selalu saja menghantui.
Sabtu malam aku menelfon ibu dirumah Ambulu, menanyakakan kabarnya, kegiatannya dan segalanya tentang Ibu…begitu juga kepada Adik yang kebetulan tinggal serumah dengan ibu, bersenda gurau dengan para keponakan tersayang hinggga berjam-jam lewat telfon. Setelah capek menelfon. aku coba cek pulsa ke *99 . ternyata pulsaku hanya berkurang Rp. 1200, padahal Hp sudah panas apalagi telingaku. Sedangkan kepuasan bertemu jarak jauh dengan keluarga di Ambulu telah terlaksana.
Hari minggu dengan semangat “45 kita sekeluarga bergegas menuju desa yang telah menjadi nokta perjalanan masa kecil dan masa remajaku yang indah yakni Ambulu.
Sesampai di Ambulu…Ibu dan keluarga sudah menunggu. Kita bersalaman dan kemudian kita duduk bersama-sama.
Suasana hening…ibu yang dulunya ramai dengan pertanyaan2 basa-basi kini terdiam. Para keponakan Bayu, Riski, Arum dan Dinda hanya bersalaman lalu mereka bergegas kembali dengan aktivitas bermainnya seperi biasa. Lalu Ibu kembali masuk kamar dan merebah.
Kenapa ini ….aku merasa kehilangan…., aku tidak lagi kangen seperti dulu…, tidak ada lagi pembicaraan yang ingin di bahas,….semuanya sudah tertuang tadi malam lewat fleksiku. Semua kerinduan telah terbeli Rp. 1200.Aku merasa kesepian…Kehilangan…kangen dan Rindu.
Tapi kerinduan itu lebih kepada “Kapan Suasana Seperti Pada Waktu dulu terulang lagi” ketika seharian tidak meninggalkan rumah karena kuatir ada tukang Pos datang membawa surat dari kampung halaman. Kerinduan yang begitu dalam dan tak mungkin kembali lagi, karena zaman tak lagi menghendaki. Semua telah tergilas dan terhempas oleh zaman..zaman yang sudah menjadi roda teknologi.
Aku jadi kesal pada teknologi…karena telah merampas rinduku…
Rindu…kangen….yang merupakan produk yang tak bisa diproduksi….

Bagaimana menurut mu….

Previous Older Entries