“Maaf ku mencintai kekasihmu”

Pada suatu hari di sekolahku
“Kemana saja kamu selama ini ven, sudah seminggu ini kamu tidak masuk, hp dimatikan, sms gak dibalas, emang kamu ini sakit apa?” kata Reny ketika melihat aku datang dan memasuki ruangan kelasku. “nggak apa-apa kok Ren, nyantai aja” jawabku pendek. “eh Venty, kamu ingat nggak kalau hari ini Ultahnya Sendy” sambung Reny. “ya tentu saja aku ingat Ven, cowokmu itu kan juga teman aku juga, lagian kalau kalian pacaran selalu ajak aku, jadi aku tahu banyak tentang kalian, masak sampai aku nggak tahu ultah Sendy” . “iya tapi maksudku enaknya kita beri kejutan apa buat dia, ayolah bantuin”. Aku terdiam menyaksikan rengekkan Reny sahabatku. Tiba-tiba rasa bersalah terasa ketika teringat kejadian seminggu yang lalu ketika Sendy cowok Reny sahabatku mencium keningku ketika

aku menyatakan perasanku padanya. Aku tak kuasa menahan penyesalan dan aku bergegas meninggalkan Reny yang berdiri menunggu jawabanku. “eh Ven, kamu mau kemana?” teriak Reny ketika kutinggalkan dia untuk berlari menyembunyikan semua perasaanku.
“Reny, maafkan aku selama ini aku membohongi kamu, selama ini dalam kebersamaan kita, kita selalu berbagi, bercanda dan aku menikmatinya meskipun aku menjadi obat nyamuk ketika kalian berpacaran. Tetapi akhirnya aku tak bisa menutupi perasaanku bahwa aku juga mencintai Sendy kekasihmu yang selama ini sangat kau cintai karena Sendy begitu sempurna mengisi hari-hariku selama ini” tangisku dalam hati tak bisa aku sembunyikan. “Venty, ada apa…apa kamu ada masalah” begitu terkejutnya aku ketika tiba-tiba dibelakangku telah ada Sendy yang dengan pesonanya menatapku dengan dalam sembari memelukku. “Sendy…kenapa kau begitu jahat…karena hadir dalam hidupku, menyiksa batinku, kau begitu jahat karena kau telah membutakan hatiku dengan perhatianmu selama ini padaku, dan begitu bodohnya aku karena mencintai kamu pacar sahabatku” tangisku pecah dipelukan Sendy. “Venty, kau sabahat terbaik, sahabatku juga sahabat kekasihku Reny, aku bisa merasakan perasaan yang kamu alami sekarang, tapi percayalah sedikitpun kau tidak bersalah, itu manusiawi dan cinta itu adalah kekuatan yang terkadang tak mampu kita kendalikan dan kau telah dikuasainya, dan meski begitu kau tetaplah Venty sahabat kami, jadi jangan sedih” perkataan Sendy seumpama air yang meyejukkanku dari kemarau. “Sen, kenapa waktu itu kamu mencium keningku saat aku menyatakan perasaanku padamu?”. Kataku pada Sendy yang masih memelukku “karena aku sayang kamu dan aku tidak ingin ada yang terluka, aku juga tidak ingin menyakiti hati Reny dengan menerima cintamu”. “Berarti kau tidak menerima cintaku, lalu apa arti ciuman itu!” kataku dengan nada keras dan berusaha lepas dari pelukan Sendy . “Ven, cobalah mengerti aku, aku tak mungkin mamatahkan perasaanmu waktu itu dan juga aku tak ingin mengkhianati Reny, dan aku meciummu karena aku menyayangimu sebagai sahabatku”. Jawab Sendy meyakinkanku.
Aku tak kuasa menahan sedih dan malu mengdengar jawaban Sendy, tak tertahan lagi air mataku tumpah, Sendy mendekatiku dan memelukku. “Sendy, aku mencintaimu, jauh sebelum Reny mengenalmu, tapi aku tak mampu mengatakannya sampai akhirnya aku mengenalkanmu dengan Reny, tapi hari-hariku bersama kalian begitu menyiksa batinku, hingga akhirnya aku tak tahan lagi menyimpan perasaanku ini. Aku sungguh mencintai kamu”. Tangisku semakin pecah. Namun sebelum Sendy menjawabnya kami mendengar ada suara di sebelah kami “ehm…, Apa aku mengganggu kalian” tanya Reny yang tiba-tiba berdiri disebelah kami yang kontan membuat kami terhentak dan dengan segera Sendy melepaskan pelukannya. “Reny, ada yang perlu aku luruskan dari kejadian ini”. Kata Sendy seraya menggapai tangan Reny. “Sudahlah Sendy tak perlu kamu meluruskan apapun, aku kesini hanya ingin menyampaikan Selamat Ulang tahun buat kamu Sendy, dan selamat atas hubungan spesial kalian ini, semoga kalian berdua bahagia” kata Reny seraya melepaskan tangannya dari genggaman Sendy dan bergegas meninggalkan kami. Aku melihat Sendy mengejar Reny dan berusaha meluruskan masalah kami. Aku hanya terdiam terpaku. Tak ada yang bisa aku perbuat selain menumpahkan air mata yang begitu berat berkantung di mataku.
“Reny, maafkan aku….Aku adalah pengkhianat yang telah tega menyakiti hati sahabatnya sendiri dan aku orang yang begitu bodoh yang mencintai Sendy kekasihmu, aku tahu kau tak akan memaafkan aku, dan aku tahu Sendy begitu terpukul dengan kejadian yang aku buat ini, tapi aku tidak bisa berbuat apapun, aku tak kuasa menahan perasaanku, dan aku hanya bisa berharap suatu saat nanti kalian memaafkan aku meskipun sadar aku tak mungkin melalui hari-hariku bersama kalian seperti dulu lagi. Reny…, Sendy selamat berbahagia, kalian adalah orang–orang yang tidak akan hilang dalam kenanganku…,sahabat….maafkan aku yang telah mencintai kekasihmu, sampai kini… meskipun aku tahu cintaku tak terbalas”.

Iklan

MEMBUAT CERPEN REMAJA

Kamu anggota keris sena…, maka buatlah karya sebanyak-banyaknya. Di bawah ini silakan berilah komentar yang berisi karya kamu berupa CERPENI lalu kirimkan menggunkan name dan url kalian.

Ingat tulislah nama, nomor absen, dan kelasMoe

Oke silahkan berkaya

CERPEN edisi 2

Bunga Untuk Mira
ronaldinho_rohim@yahoo.com

Hujan turun begitu lebat, teman-teman mengurungkan niatnya ketika hendak menerobos hujan, hal ini disebabkan hujan turun semakin lebat, apalagi angin bertiup begitu kencang. Aku memutuskan untuk nimbrung, singgasana pak timbul alias pos satpam sekolah karena kebetulan disitu banyak teman-teman lagi ngrumpi sambil menunggu hujan reda.
Tiba-tiba

pandanganku tak sengaja melihat adhi yang duduk sendiri di teras mushola, wajahnya nampak murung padahal adhi dikenal sebagai anak yang ramai alias doyan ngomong ples mbanyol. Sesekali ia memainkan HP-nya seolah mencari-cari nama atau nomor yang tersimpan didalam memori.
Dengan segera aku datangi adhi sahabatku, “hoi sam lagi apa?” tanyaku sambil menyebut nama pangilan khususku padanya. “hei, g ada cuman nunggu hujan reda aja” jawabnya singkat tanpa menoleh kearahku. “Sory Sam, aku perhatikan akhir-akhir ini kamu banyak merenung, ada apa…kenapa?” Tanya ku. “Entahlah Dim, aku sendiri bingung, nggak seperti biasanya perasaanku seperti ini” jawabnya dengan menghela nafas panjang. “Oya Dim, gimana kabar si Mira” lanjutnya. “Wah, kamu kok tanya aku Sam, perasaan kemarin aku lihat kamu ngobrol sama anak baru itu” jawabku enteng. “ya itulah Dim, seharian ini aku tak melihatnya, aku dengar dia tidak masuk ke sekolah, aku takut gara-gara aku dia jadi tidak masuk”. “Emangnya ada apa sampai gara-gara kamu dia nggak masuk ke sekolah” jawabku curiga. “Sebenarnya kemarin itu aku nembak dia, dan hari ini seharusnya dia kasih balasan ke aku” Jawabnya setengah berbisik. “ooo, jadi gitu ceritanya, ya nyantai aja, kali aja dia lagi konsultasi ke teman-temannya kali” jawabku menghiburnya. “Tapi kenapa dia nggak masuk, aku takut sekali Dim, aku takut sekali dia menolak cintaku karena aku sangat menyukainya”. Kata Adhi yang langsung aku sambut dengan tawa terbahak-bahak. “kenapa kamu tertawa Dim”. “aku heran dan gak percaya, buaya darat macam kamu bisa jatuh hati seperti ini, padahal banyak cewek yang bertekuk lutut di kaki play boy macam kamu…ha..ha..ha” jawabku sambil tertawa.
Ke esokan harinya aku masih menemukan raut wajah yang aneh pada Adhi, tidak biasanya dia seperti ini, aku kenal sekali adhi adalah seorang play boy dan tidak menyangka dia bisa gundah gara-gara si Mira. “Gimana Sam, apa kamu sudah ketemu Mira” Tanya ku, “Sudah Dim, tapi dia hanya diam dan membalas pertanyaanku dengan senyumnya yang membuat aku tak berdaya, tolong lah aku Dim”. Jawab dia sambil memasang wajah melas. “Oke Sam aku ada ide, kebetulan besokkan hari valentine, gimana kalau kita kasih dia bunga” usulku. “wah aku malu Dim..!” jawab Adhi spontan. “Malu katamu, apa aku tidak salah dengar, buaya darat malu sama cewek” kataku heran. “itulah Dim, mungkin kali ini aku benar-benar jatuh cinta”. Jawabnya sambil menerawang “waduh, ini namnya play boy jatuh cinta hehehehe…” kataku sambil mentertawakan gelagat Adhi yang lain dari biasanya. “Ok tenang aja…besok aku yang akan memberikan bunga padanya buat kamu”. “terima kasih ya Dim kamu teman yang baik” balas Adhi kegirangan.
Hari Valenite telah tiba, ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu, aku telah menyiapkan bunga yang aku petik di pingir jalan mandiri land. Aku menunggu sampai Mira keluar dari kelas, namun hari itu dia begitu betah sekali di kelas akhirnya aku meminta bantuan Tiwi untuk menyerahkan bunga dari Adhi untuk Mira. Dari jauh aku dan Adhi melihat Mira menerima bunga yang di sodorkan Tiwi, tampak wajah bahagia berhias diwajah Adhi ketika Mira mencium bunga tersebut. “Dim, aku sudah tidak tahan lagi gimana kalau kita menemuinya hari ini, aku ingin tahu perasaannya padaku”. Ajak Adhi sambil menarik tanganku. “Eh..Sam kamu g salah tah, masak kita yang menemuinya, harusnya kamu sendiri yang menemuinya masak sama aku” jawabku menolak. “Oke, aku akan menemuinya sekarang, doakan ya” kata Adhi lalu bergegas menuju Mira.
“Mira…, maaf mengganggu, boleh aku tanya sesuatu ke kamu” tanya Adhi dengan menatap tajam ke mata Mira. “Iya, silakan” jawab Mira singka,t dengan lembut dan seyum yang membuat hati Adhi seperti runtuh. “Apa kamu menerima aku jadi pacarmu”. Kata Adhi dengan tatapan penuh harap. Sejenak waktu terdiam, Adhi terus menatap mata Mira dengan tatapan burung elang yang tajam. “Maaf Adhi, bukanya aku tidak mau menerima kamu jadi pacarku, tapi kamu terlambat”. Jawab Mira sambil menatap paksa mata Adhi. “Apa maksudmu terlambat Mira, apa kamu sudah punya pacar”. Tanya adhi penasaran. “Maafkan aku Adhi…, karena dua hari yang lalu aku telah mengakhiri kesendirian ku karena telah ada pria yang telah mengisi hatiku dan aku juga mencintainya, maafkan aku” jawab Mira berusaha mencairkan suasana yang tegang. “benarkah ini Mira, kalau boleh tahu siapakah dia pria yang beruntung itu, apa dia juga di sekolah ini?”. Tanya Adhi memelas. “benar, dan baru saja dia menitipkan bunga ini padaku”. Jawab Mira sambil menunjukan bunga pemberian Adhi yang kontan saja membuat hati Adhi berdetak lebih kencang diantara percaya dan tidak percaya. “Apakah arti semua ini Mira” tanya Adhi bingung. “Iya, ini adalah bunga pemberian cowokku, meski tidak mahal namun begitu dalam artinya bagi ku”. Jawab Mira sambil mencium dan mendekap bunga pemberian Adhi. “Apa itu artinya kamu menerima cintaku Mira?” tanya Adhi dengan mata berbinar. “Maaf Adhi aku harus mengulang perkataanku kembali bahwa aku sudah mempunya kekasih”. Jawab Mira sekali lagi. “Tapi apa arti dari bunga pemberianku itu” Tanya Adhi bingung. “Apa maksudmu dengan Bunga Pemberianmu” Balas Mira lebih bingung lagi.
Adhi menoleh kearah Tiwi dan bertanya “Apa yang kamu katakan pada Mira ketika memberikan bungaku tadi Tiwi?” “Aku gak ngomong apa-apa dhi, aku hanya bilang bunga itu dari Adim untuk Mira,… kan benar bunga tadikan titipan Adim, kan kamu juga ada di situ tadi”. Jawab Tiwi santai yang membuat Adhi dan Mira kebingungan. Ternyata terjadi salah paham diantara mereka. “Mira…Apa itu berarti, cowok yang special bagimu itu adalah Adim…?” Tanya Adhi memastikan. “Benar…, dua hari yang lalu kita sudah jadian”. Jawaban Mira yang laksana petir disiang hari bagi Adhi. Adhi berlari menemuiku. “Apa maksudmu Dim, kamu sengaja mempermainkan aku, kenapa kamu tidak bilang kalau Mira adalah pacar kamu”. Kata Adhi sambil menarik bajuku. “Maafkan aku Sam, bukanya aku mempermainkan kamu, tapi aku tidak ada kesepatan untuk menjelaskannya padamu. Tapi jujur saja aku akan merelakan Mira apabila kamu sunguh-sungguh mencintainya dan Mira juga menyukaimu, Aku sudah cukup bangga kok asal melihat kamu berubah tidak play boy lagi dan menemukan kebahagian” Jawabku. “Tapi bukan begitu cara nya Dim, kamu sudah sering kali berkoraban demi aku. Jangan kamu korbankan kebahagianmu untuk aku”. Kata Adhi sambil memelukku. “Terima kasih Sam karena kamu mau mengerti aku”. Ungkapku lega. “Sudahlah Dim, jangan di bahas lagi sekarang cepatlah temui Mira, berikan kembali bunga ini, bunga yang patas kamu berikan untuk Mira, Meski bunga di tepi jalan namun begiru besar nilainya bagi Mira karena cinta sejatinya yang memetinya”. Ungkap Adhi dan meninggalkan aku. “Oya dim, tolong cium dia atas nama aku, biar kau juga merasakannya meski lewat khayalanku” teriak Adhi sambil berlari meninggalkanku, dasar buaya darat gerutuku.

Cerpen

Persahabatan dan Cinta
“Elegi hari Lepas Pisah”
By. Dhita dae Alumni SMP 6 Jember 2006/2007

Jam sudah menunjukkan pukul 8.00, acara segera dimulai namun sedari tadi aku mencari Gian tak juga tampak, padahal pada acara perpisahan ini, ia dan kelompok bandnya di jadwalkan tampil sebagai band pertama yang tampil pada acara lepas Pasrah siswa kelas 3 di sekolahku.
“Firdaus apa kamu tahu dimana Gian?” tanyaku pada salah satu

sahabat dalam kelompok sahabat kami. “entahlah kita sendiri lagi bingung, sejak tadi sudah mencari kemana-mana tapi gak ketemu, padahal kita sebentar lagi tampil” jawab Firdaus dengan raut panik. “Gian dimana kamu, kami semua mecemaskanmu”. Ungkapku dalam hati. Acara telah dibuka, presenter yang memandu acara telah beberapa kali memanggil kelompok band Gian dan teman-temannya, namun tak juga naik panggung akhirnya digantikan oleh kelompok band yang lain. Teman sekelas mencari Gian yang tiba-tiba hilang seperti ditelan bumi.
Aku keluar gedung aula, entahlah tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak, selalu di bayangku tampak wajah Gian, sahabat karibku, meski aku telah pejamkan mataku, wajahnya terus juga menyapa, bahkan tiap kali aku melihat orang lain selalu terlintas wajah Gian. “Ada apa ini, mengapa wajah Gian terus saja menghantui aku”. Aku terus keluar kearah jalan raya. Tampak olehku di kejauhan diantara beberapa orang yang tengah duduk di sebuah halte aku melihat sosok Gian. Aku mencoba mengusap mataku untuk memastikan panandanganku, ternyata benar Gian ada disana diantara beberapa orang yang sedang menunggu angkutan kota.
“Gian, kenapa kamu ada di sini”. Tanyaku mengejutkan lamunannya. “aku mau pulang”. Jawabnya singkat dan dengan segera beranjak dari tempatnya. “kamu kenapa, bukannya kamu akan tampil di acara lepas pisah hari ini?” tanyaku sengit. “Ditha, aku tak tahan melihat wajah teman-temanku di dalam gedung yang begitu cerianya, padahal mereka tahu kalau hari ini adalah awal dari tananda-tananda perpisahan kita, aku tak tahan”. Aku hanya tertegun mendengar pernyataan Gian. “Gian, bukankah perpisahan ini memang harus terjadi, kita tidak mungkin selamanya bersama menjadi siswa SMP”. Kataku dengan nada menghibur. “Itulah yang sangat menyakitkan, sulit sekali membanyangkan kita semua harus berpisah dan aku tak sanggup melepas perpisahaan ini dengan kegembiraan yang semu”. “Iya, tapi kenapa kamu tiba-tiba jadi cengeng seperti ini, padahal biasanya kamulah yang paling tegar dan kamulah sahabat kami yang selalu memberi kami nasehat disaat kami rapuh”. “Ditha, bukan hanya perpisahaan ini yang membuat aku menjadi rapuh, namun ada hal yang membuatku gelisah dan tak sanggup aku memendamnya semakin lama”. “Apa maksudmu, Gian”. “Apakah kamu telah bangga dengan persahabatan kita ini”. Tanya Gian yang membingungkanku. “Apakah pada persabahatan kita ini telah kau dapati kesempurnaan tanpa celah” sambungnya dengan melangkah pergi meninggalkanku yang semangkin kebingungan. “Gian tunggu, apa maksudmu aku tak mengerti” karena penasaran aku kejar langkah kecil Gian. “Jadi menurutmu diantara persahabatan kita ini ada yang berkhianat ..?, tanyaku dengan nada ketus. Yang dijawabnya dengan anggukkan yang membuatku semakin bingung. “kamu jangan asal menuduh, emangnya siapa diantara sahabat-sahabat kita yang telah mengkhianati persabahatan kita” tanyaku dengan nada berang. “Aku…Aku orangnya yang telah mengkhinati kalian semua, aku yang telah mengingkari komitmen dan perjanjian kita” jawab Gian dan kemudian berpaling dari panandanganku. “Gian..Gian, tunggu, apa maksudmu, aku gak ngerti dengan apa yang kamu bicarakan, tolong jangan pergi dulu”. “Ditha maafkan aku, aku telah mengkhiantai kalian semua, aku telah melupakan janji kita bahwa diantara persahabatan kita pantang memiliki perhatian dan perasaan yang lebih selain persahabatan. Nyatanya aku tak bisa memendam perasaaku bahwa aku telah mencintai seseorang diantara sahabat kita, maafkan aku” ungkap Gian yang membuatku terpaku. “Gian sadarkah kau dengan apa yang kau katakan ini? aku memastikan ketidak percayaanku. “Lalu Siapa, siapakah orangnya yang kamu maksud itu”. “Maaf Ditha aku tak bisa mengatakannya, aku terlalu pengecut untuk mengatakan kebenaran ini, kepadamu dan kepada semua sahabat-sahabat kita”. Jawab Gian. “Gian aku tak menyangka, bahwa selain penghianat kau juga sangat pengecut, aku sangat kecewa padamu, aku kecewa padamu karena kau bukan hanya seorang pengkhianat dan pengecut tapi juga kau orang yang egois dan tak bertanggung jawab, apakah kau sadar dengan keegoisanmu ini kami semua mencemaskanmu bahkan telah membuat teman-teman sekelas mencarimu, aku kecewa padamu lebih dari kau seorang pengkhianat dan pengecut, sekarang silahkan pergi dan larilah dari kenyataan ini, dasar egos” kataku dan meninggalkan Gian yang terpatung.
Dentungan lagu lewat sound system mengalun menghantarkan hari ini, teman-teman yang ada di aula dengan asyik menikmati perayaan hari pepisahan. Di kejauhan sahabat-sahatku telah menunggu. “Gimana Ditha, apa kamu sudah ketemu dengan Gian” Tanya Kiki padaku. “kita tak perlu menunggu pengkhianat itu lagi”. Jawab ku dengan kesal. “eh…emangnya ada apa, kenapa kamu pangil Gian dengan pengecut, apa salah dia” tanya Ferdi seolah tidak terima. “kamu tak perlu membela pengecut itu lagi, ia telah mengkhianati kita dan diapun telah lari dari kita yang telah mencari dan menunggunya di sini, jadi kenapa harus menunggu penghianat itu” jawabku dengan kesal dengan berlinang air mata. Aku tak paham dengan perasaanku, tiba-tiba saja aku sangat kehilangan permata yang telah menghias hari-hariku. Suara musik memecah kemelut, tak terasa acara akan segera usai. “Ditha, aku tak habis pikir, kenapa kamu berfikiran buruk pada sahabat kita sendiri, aku tidak menyangka kau setega itu” sambung Novi. “Ia Dit, kita bersahabat, jadi tidaklah pantas memfitnah orang apalagi Gian itu sahabat kita” ungkap teman-teman hampir bersamaan. Namun secara mengejutkan dari belakang tiba-tiba Gian hadir dan berkata “Ditha benar, memang diantara persahabatan kita ini ada seorang penghianat yang pantas kalian benci yaitu aku”. Semua mata memanandang Gian seolah terhipnotis. “Apa maksudmu Gian, tolong jelaskan pada kami” tanya Firdaus dengan penasaran. “teman-teman, maaf kan aku. Aku telah menkhianati kalian semua, aku melanggar perjanjian yang kita buat dulu bahwa diantara persahabatan kita pantang ada perasaan cinta, aku membohongi kalian semua. Aku telah sekian lama memiliki perasaan pada salah satu cewek di kelompok kita ini, namun aku tak berani menyampaikan perasanku, maafkan aku…”. “Jadi sudah berapa lama kau membohongi kami”. Tanya Ferdi dengan tampang kesal. “Dari sejak kita mengukuhkan persahabatan kita ini, sejak itu aku telah menaruh hati pada …” Gian terdiam ia dan semua mata terpusat padanya dan tiba-tiba. “Dasar pengkhianat…”. (prak) Ferdi dengan kesal memukul wajah Gian “Dasar pengkhianat. Tak kusangka selama ini kamu membohongi kami, lebih baik kamu keluar dari persahabatan kita ini”. “Sabar Fer, kamu jangan emosi, jangan sampai teman-teman lain melihat kita seperti ini, malu kan…!”. cegah Novi. “Aku memang pantas kalian pukul. Dan memang aku tak pantas diantara ketulusan persahabatan kalian” kata Gian dan lalu menatapku, entah mengapa aku terasa gugup melihat tatapannya yang tajam seolah mencabik-cabik hatiku. “Ditha, maafkan aku…, aku selama ini menyembunyikan perasaanku padamu, aku mencintaimu Ditha, tapi aku tidak berharap kau membalas cintaku, karena aku tahu kamu telah mencintai Galih, tapi aku bangga selama ini bisa bersamamu, melihatmu, bersenda gurau bersamamu, meski perasaanmu tidak padaku. Aku telah bangga mencintaimu, namun aku sadar ternyata tindakkanku ini telah menghancurkan banyak hati sahabat-sahabatku” aku hanya tertegun mendengar pernyataan Gian, bukan hanya aku, teman-teman terperangah mendengar pernyataan Gian yang gila. Di tengah ketegangan, presenter mengejutkan kami lewat microfon memanggil kelompok band kami. “teman-teman bolehkan untuk terakhir kalinya aku bergabung”. Gian memecahkan keheningan kami. “baiklah Gian karena hari ini kita harus tampil dan berhubung kami tidak ada pengganti vokal maka kamu kita beri kesempatan”. Jawab Ferdi dan bergegas naik panggung diikuti teman-teman. Panandangan Gian tertunduk saat melantunkan bait-bait syair dan terlihat jelas di matanya air mata, kerap kali pada saat ia menyanyi dengan wajah yang dalam memanandangku “Tetaplah menjadi bintang di langit….agar cinta kita akan abadi…biarkan sinarmu tetap menghiasi alam ini agar menjadi saksi cinta kita….berdua..” tembang dari Padi ia lantunkan dengan penuh penghayatan membuat kami semua menjadi terpanah. “Lagu ini aku persembahkan buat Ditha, semoga waktu mempertemukan kita kembali dari perpisahan yang menyakitkan ini, terima kasih sahabatku semua..” lagu itu ditutup dengan pernyataan Gian yang seumpama anak panah yang menembus jantung hatiku, aku tak kuasa menahannya dan aku segera berlari meninggalkan aula yang makin ramai karena bintang tamu K2 Regge.
“Gian…bukan hanya kau yang penghianat, tapi aku lebih kejam dari itu. Sejujurnya jauh sebelum kau mencintaiku, hatiku telah menjadi milikmu, namun karena aku wanita tak mampu mengatakannya seperti dirimu, dan karena wanita lebih bisa memendam perasaannya dari pada seorang pria, namun ku akui, kau seorang yang pemberani, bukanlah pengecut. Terima kasih Gian, Semoga perpisahan ini menjadi awal dari perjumpaan kita, yang kita kemas dalam balutan kasih dan dengan iringan sayang seperti dimana Rama terhadap Sinta, seperti Romeo dan Juliet. Gian aku menunggu kau menyatakan cintamu kepadaku, disini… diantara tiupan angin yang menyapa wajahku, diantara kebisingan kota namun telah kusiapkan sebuah ruang yang hening untuk cinta kita…terima kasih atas keberanianmu, dan maafkan pengkhianatan kami para sahabatku….dan Galih maafkan aku, karena telah kutemukan permata hatiku yang sesungguhnya…maafkan aku….” *) 7-8-3-8-4-7-4