BUBER (BERBUKA PUASA BERSAMA) DAN REUNI KECIL2AN …..BISA DONG…..!

luar biasa…..Terima kasih kepada para anggota jurnalis baik pendatang baru, junior, senior juga aluni…dan beberapa simpatisan (bukan anggota jurnalis tapi peduli dengan semua kegiatan jurnalis. g nyangka tadi ketika mengumpulkan anak jurnalis sesi pertama saja, ruangan multimedia g muat sampai banyak yang bediri. dan sesi kedua yang dihadiri oleh para alumni, lebih g nyangka ternyata yang datang banyak sekali (meskipun infnya hanya dari sms)…itu artinya banyak yang peduli dengan keris sena. Jadi BUBER yang di adakan oleh keris sena disambut dengan baik. dan bagi yang tadi tidak hadir di acara rapat perdana buber tadi. infonya adalah buber akan dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2011 tempat nya di smp 6 jember. kalau kuotanya melebihi target maka akan di adakan di halaman sekolah tentunya dengan menyewa tenda. acara di mulai jam 14.00. yang di meriahkan oleh beberapa atraksi mulai dari lomba fashion, nyanyi, dance, dan spontanitas lainnya hingga tiba waktu berbuka puasa dan dilanjut sholat magrib berjama’ah. Semua boleh hadir meskipun bukan anggota jurnalistik, atau pun alumni (itung2 reuni kecil2an) asal bayarnya sama hehehe. kepastian yang bersangkutan bisa hadir atau tidak pada acara ini ditentukan pada tanggal 15 Agustus 2011. bila yang besangkutan tidak mengkonfirmasi undangan yang di edarkan maka dianggap tidak bisa ikut dalam acara tersebut. kenapa tanggal 15 itu kepastian dari konfirmasi kehadiran peserta Buber. hal ini berkaitan dengan kosumsi dan penyediaan tempat serta konsep acara tsb. kalau jumlah yang ikut sedikit maka hanya dilaksanakan di aula atau ruang multimedia. tapi kalau banyak maka akan ada langkah lain. makanya segera sebarkan info ini keteman2mu …..agar semua bisa hadir (itung2 reoni kecil2an rek). undangan silahkan menghungi petugas yang sudah ditentukan di rapat tadi. informasi yang lain pag noe siap jadi CP. ditunggu kabarnya tanggal 15 Agustus ya….. semoga acara buber tgl 20 Agustus 2011 lancar dan mendapat dukungan banyak pihak (kepala sekolah, osis dan donatur)…………. salam Keris sena……………………………….

Iklan

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.

PENGUMUMAN…..

pengumuman kepada semua siswa kelas IX ada info resmi bahwasanya tanggal 4 juni wajib masuk, untuk menerima hasil kelulusan dan sekaligus lepas pisah kelas IX tahun 2010/2011. untuk keperluan itu siswa diharapkan

memakai baju batik bebas (alias batik yang gaul gitu lho) dan ingat……kaliean semua wajib datang jam 7.00. dan persiapan yang mau tampil harus datang jam 6. atau lebih pagi dari pag moo dan apalagi pak ramsin.

nah untuk lebih jelas…kalian sms aja ke no nya penulis ya……

NB. Siswa yang tidak absen pada tanggal tersebut maka tidak mendapatkan informasi kelulusan.

atau bisa jadi udah yakin g bakalan lulus…..

so kalau kalian semua dah bosen ma pag noe…jangan lempar batu ke pag noe tapi halian harus lulus dan meninggalkan sekolah yang mungkin membuat kalian bosan ini dengan masuk ke smu yang kalian favoritekan……

Cerita Unik kiriaman Murid-muridku…..

Menulis bagi siswa atau pelajaran adalah sebuah rutinitas, semua kegitan yang ada disekolah seakan tidak lepas dengan namanya menulis, namun meski demikian banyak siswa yang pada dasarnya tidak suka dengan menulis, apalgi dengan instruksi gurunya yang menulis ini,itulah….wah ribet, kemeng, kesel dan banyak sekali keluahan mereka. bahkan ada juga yang harus mengancam teman yang lain untuk mencatatkan apa yang menjadi tugasnya.
Wah kalau begini jadi inget waktu masih sekolah,tapi syukur deh waktu itu saya gak sampai mengancam teman saya apalagi teman perempuan untuk mencatatkan tugas saya. tapi malah kebalikannya…

Kebalikannya bukan berarti saya yang diancam hehehe jadi malu…waktu itu saya menjual jasa, bagi teman yang males nyatat tugas malah mandapat tawaran jasa mecatat dengan konsekuensi mereka bayar beberapa rupiah…hehhehe ya itung itung untuk tambah uang saku.
Lalu apa jadinya bila tugas yang diberikan oleh guru itu adalah mencatat atau menulis sebuah kejadian atau peristiwa yang sangat berkesan atau menyentuh hati mereka. kejadian ketika mereka sedang berinteraksi dengan Ayah atau Ibu kita. ehmmmm
Nah dibawah ini adalah beberpa kumpulan cerita pendek tetang peristiwa itu yang di alami langsung oleh murid-murid saya….nah selain ceritanya yang menarik diharapkan mereka bisa membawakannya dengan cara penulisannya yang menyenangkan….
Bagi teman-teman yang ketulan suka membaca…nah ini dia suguhan kecil dari Murid-murid kami di SMP 6 Jember…semoga terhibur…..

Tips Sederhana dalam Menulis

Penulis: syahid

Nyebur Dulu, Baru Berenang

Banyak orang yang ragu-ragu untuk memulai menulis. Ini tidak hanya dialami oleh para pemula, tapi juga dialami oleh penulis-penulis senior ketika mereka akan menulis lagi. Ketika akan menggoreskan beberapa kata di layar komputer, mereka ragu tulisannya nggak enak dibaca atau jelek dan sebagainya. Biasanya mereka duduk bengong di depan komputer tapi tidak satu kalimat pun dituliskannya.

Keadaan ini pun sering saya alami. Tapi biasanya keadaan ini saya dobrak saja. Artinya saya paksakan saja untuk menulis. Biasanya saya alami ketika dikejar-kejar Penerbit dan dikasih jatah waktu sekian hari untuk menyelesaikannya.

Hasilnya memang pada halaman-halaman pertama biasanya kualitasnya jelek. Tapi lama-kelamaan akan terbiasa. Suasana hati pun akan terbangun. Emosi kita pun terhanyut dalam tulisan-tulisan yang kita buat. Jadilah kita asyik berwara-wiri dengan tulisan kita. Dan jika sudah sampai dalam keadaan seperti ini, jangan harap deh kita bisa diganggu dengan kegiatan-kegiatan lain. Bahkan kita akan kuat duduk berjam-jam di depan komputer dalam waktu yang lama.

Dan keadaan ini pernah saya alami. Saya pernah tidak tidur semalaman hanya untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Bukan, bukan karena tulisan itu sangat mendesak. Tapi lebih karena keasyikan menulis tersebut. Dan jika keadaan tersebut dipotong dengan kegitan lain, apalagi kegiatannya sangat menyita pikiran, biasanya sangat sulit untuk membangun kembali suasana yang telah muncul tersebut.

Berani Gagal

Banyak juga orang yang takut tulisannya ditolak oleh media. Sehingga tulisan-tulisan yang mereka hasilkan hanya numpuk di kamar mereka saja. Mereka takut tulisannya dibaca orang, apalagi jika sampai dikritik.

Billi PS Liem dalam bukunya yang super laris Dare to Fail mengkritisi hal ini walau tidak secara explisit. Banyak orang di dunia ini yang tidak berani melakukan sesuatu. Mereka takut gagal. Jika mereka menulis, mereka takut tulisannnya jelek dan dihina orang. Atau jika mereka mengirimkannnya ke media, mereka takut tulisannya ditolak. Atau juga ketika tulisannya telah dikirim ke media dan ditolak, mereka lantas menyerah dan mencap dirinya ‘Tidak Berbakat Menulis’.

Padahal semua orang sukses yang ada di dunia ini rata-rata pernah gagal. Bill Gates yang merupakan orang terkaya di dunia versi Majalah Forbes (konon kekayaan bersihnya mencapai Rp 419,4 Trilyun, sekitar 4 x lipat APBN Indonesia) pernah berkata “Banyak orang hanya melihat keberhasilan saya. Padahal keberhasilan saya itu hanyalah 10 persen dari hidup saya. 90 persennya adalah kegagalan saya.”

Yup, kegagalan merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan untuk meraih sebuah gelar bernama ‘sukses’. Ibaratnya SKS yang harus diambil jika kita ingin lulus kuliah. Semua orang mengakui bahwa Anggeliqe Wijaya (Juara Tenis Dunia Wibledon Junior) mempunyai smash sangat kuat dan akurat. Tapi dibalik smash tajamnya itu adalah ribuan smash-smash yang nyangkut di net atau keluar lapangan ketika latihan. Atau juga Thomas Alfa Edison yang telah menemukan lebih dari 100 alat yang sangat bermanfaat bagi manusia sekarang ini. Salah satu penemuannya adalah lampu bohlan. Dan dalam experimennya menemukan lampu bohlan tersebut, Kang Edi (begitu sapaan akrab Edison seandainya masih hidup dan ada di hadapan saya) mencoba 2000 kawat. Dan ternyata kawat yang ke 2000-lah yang ternyata bisa menghantarkan listrik dan berpijar. Coba bayangkan, seandainya Kang Edi menghentikan percobaan pada langkah ke 1999, mungkin kehidupan yang terang benderang ini tidak akan pernah ada. Mungkin.

Lalu bagaimana dengan kamu? Apakah kamu masih takut untuk menulis dan mengirimkannya ke media? Jika sudah, berapa yang ditolak? Satu, dua, atau tiga karya? Dan apakah kamu masih menganggap kamu ‘tidak berbakat’ ketika tulisannmu ditolak? Pasti tidak kan?

Saya pribadi pernah mengirimkan karya hampir lima belas kali ke media. Semuanya ditolak. Baru kira-kira yang keenam belas kalinya dimuat. Saya juga pernah tiga kali mengikuti perlombaan kepenulisan, dan selalu kalah. Baru yang keempat kalinya menjadi Juara.

So, keep fight! Jangan mudah menyerah.

Tiga cara untuk menjadi Penulis : Menulis, Menulis, dan Menulis

Penulis Amerika Getrude Stein mendefinisikan arti menulis dengan menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah…, dan seterusnya. Kuntowijoyo pernah berkata bahwa hanya ada tiga cara untuk menjadi penulis, yaitu menulis, menulis, dan menulis. Helvy Tiana Rosa pernah berkata bahwa yang mutlak dilakukan oleh seorang penulis adalah banyak membaca dan kemudian [latihan] menulis.

Ya, tidak ada jalan singkat untuk menjadi penulis kecuali menulis. Menulis untuk yang ke-satu adalah bangku kuliah untuk kemudian teori-teori yang didapatkannya dipraktekkan pada menulis yang ke-dua. Menulis yang kedua adalah bangku kuliah yang teori yang didapatkannya dipratkekkan pada menulis ketiga. Begitu seterusnya.

Pikiran Bawah Sadar: Sumber Kreativitas

Yang biasa saya lakukan sebelum memulai menulis adalah berbaring di kasur, kemudian membiarkan pikiran ini ‘mengembara’ dengan sendirinya tanpa dikendalikan dan kemudian ide-ide kepenulisan itu datang mengalir. Kok bisa sih?

Ya, kegiatan inilah yang biasanya dinamakan dengan menggali Pikiran Bawah Sadar. Dalam buku Piece of Mind, penulisnya mengatakan bahwa Pikiran Bawah Sadar adalah sejumlah memori yang mengendap dan mengkristal dalam jaringan otak yang paling dalam.

Pikiran-pikiran di pikiran bawah sadar ini akan mengalir ke dalam otak sadar kita kalo kita memanggilnya. Pikiran-pikiran ini hadir dalam benak kita berupa ide-ide cemerlang tentang sesuatu, kreativitas, alur cerita, dan banyak lagi.

Intuisi dan Revisi : alat pengontrol kualitas

Jangan pernah ragu untuk menulis karena kita tidak punya teori. Sebagian besar penulis menulis tidak dengan teori. Bahkan penulis novel LUPUS dan OLGA, Hilman Hariwijaya berkata: “Kalau anda mau menulis, ya menulis saja. Tak perlu terpaku pada kaidah-kaidah atau teori-teori. Setelah jadi, biar para pemikir dan kritikus yang mencarikan teori apa yang kamu pakai.”

Ada juga pendapat lain dari William Forrester. Beliau berkata “Menulislah—pada saat awal—dengan hati. Setelah itu, perbaiki tulisan kamu dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berfikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang Anda rasakan.”

Saya sepakat dengan kedua penulis senior ini. Jika mau menulis, ya menulis saja. Jangan pikirkan teori. Saya pribadi memang termasuk orang yang membaca teori. Ada sekita 6 buku teori kepenulisan yang pernah saya baca. Tapi pada saat menulis, teori-teori itu serasa terbang entah kemana. Jarang saya pakai.

Bagus tidaknya tulisan kita, justru bisa kita rasakan oleh kita sendiri. Istilah kerennya mungkin Intuisi. Biasanya saya tidak peduli dengan apapun saat nulis untuk versi pertama. Baru setelah itu saya baca ulang. Di sinilah intuisi bermain. Merasakan apakah tulisan saya ini enak dibaca atau tidak. Jika ada sesuatu yang tidak sreg, saya akan men-delete-nya dan menggantikan kalimat yang kurang bagus tadi dengan kalimat yang lebih canggih. Kegiatan itu terus saya lakukan berkali-kali. Kegiatan inilah yang dinamakan dengan Revisi. Saya tidak akan mengirimkan ke media sampai saya merevisinya berulang kali dan tidak ada kejanggalan lagi dalam tulisan saya. Bahkan jika untuk sebuah perlombaan, revisi pada tulisan tersebut saya lakukan sampai 25 kali.

Oke, selamat menulis ya….!

Tulisan ini disampaikan dalam acara Pesantren Liburan Mahasiswa XVII Se-Jawa Barat dan Banten DKM UNPAD di Islamic Centre Sumedang, Rabu 22 Juni 2005

Mengasah Empati Berbagi Simpati

Tazkiyatun NufusOleh:Dr. Setiawan Budi Utomo


dakwatuna.com– Sering kaliseseorang menilai dengan parameter subjektif dan melihat orang lain dengankacamata kuda sehingga tidak jarang salah memahami dan menyikapi peristiwasecara tidak arif. Hal itu karena minimnya kesadaran empati dalam memahamikelemahan, kesalahan, kekurangan, kejahilan dan kenaifan orang lain yangsebenarnya boleh jadi merupakan ujian kepekaan dan kejelian dalam mendulanghikmah dan pelajaran di balik berbagai peristiwa yang dilakoni orang lain tadi,alih-alih menjulurkan simpati. Empati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa ataumengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama denganorang atau kelompok lain. Simpati dalam KBBI diartikan sebagai:

1.rasa kasih; rasa setuju (kepada); rasa suka

2.keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dsb) orang lain: rakyat yangmenderita akibat bencana alam itu mendapat simpati dari berbagai kalangan.

Suatuketika para sahabat yang sedang berada di masjid Nabawi terusik kesyahduandzikir mereka dan spontanitas bereaksi emosional tatkala seorang laki-laki Arabbadui tiba-tiba berulah kencing di dalam masjid yang saat itu lantainya masihberupa tanah. Demi melihat situasi panas tersebut Rasulullah saw dengan penuhempati dan kelembutan menyikapi dan meluruskan peristiwa tesa dan antitesasikap reaksi berang sahabat dan aksi bodoh Arab badui tersebut. Beliaumemerintahkan para sahabat untuk bersabar dan membiarkan Arab baduimenyelesaikan hajatnya serta meminta mereka menyiram bekas kencingnya agarmerembes ke tanah dan hilang najisnya. Setelah situasi reda dan dapat diatasi,Rasulullah segera memanggil mereka semua. Beliau memberikan bimbingan kepadapara sahabat tentang sikap empatik yang akan membawa hikmah yaitu denganmemaklumi ketidaktahuan Arab badui tersebut, menyadari reaksi kesabaran akandapat menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.

Parasahabat akhirnya mengerti bahwa sikap empati yang membuahkan solusi masalahdengan menyiram dan membersihkan kencing sebagai pelajaran bagi si badui bahwaperbuatannya tidak benar yang telah mengotori tempat yang seharusnya dijagakesuciannya. Selain itu, mereka menyadari bahwa bersabar menanti selesainyakencing si badui akan menghindari tiga mudharat yakni gusarnya si badui yangmerasa terusik hajatnya, menyakiti saluran kencing si badui yang terganggukelancarannya, dan meluasnya area najis akibat kepanikan si badui dalammenuntaskan hajatnya. Kepada si badui Nabi saw memberikan pemahaman secarahalus bahwa perbuatannya tidak benar karena telah kencing di masjid dan itutidak pada tempatnya sebab masjid dibangun sebagai tempat suci untuk dzikrullahdan shalat. Jelang mendapat penjelasan empatik Nabi, si badui sangat terpesonapadanya dan sebaliknya masih kecewa dengan sikap berang sahabat seraya berdoa“Ya Allah masukkanlah aku dan Muhammad ke dalam surga dan janganlah Engkaumasukkan ke dalamnya seorang pun selain kami.” Lagi-lagi demi mendengar doayang tidak arif itupun nabi menyikapinya dengan penuh empati demi melihatkenaifannya tanpa membodoh-bodohkannya seraya meluruskan doanya: “Wahai kamu,ketahuilah bahwa surga itu sangat luas dan jika kita berdua saja yang masukniscaya akan sangat kesepian”.

Padasaat yang lain, kita saksikan sejarah Nabi yang telah membuktikan samudera jiwaempati tatkala seorang laki-laki dengan langkah tergesa-gesa menghadapnya.Nafasnya masih tersengal, turun-naik, sementara jantungnya berdetak cepat.Rasulullah menyambutnya dengan penuh santun. “Celaka bagi kami, wahaiRasulullah,” begitu ia mengawali pembicaraannya. “Aku telah melakukan hubungansuami-istri di siang Ramadhan.” Nampaknya lelaki ini sadar bahwa perbuatannyatelah melanggar syariah, yang karenanya ia harus menerima sanksi Rasulullahkemudian memberi petunjuk agar lelaki itu memerdekakan seorang budak. Lelakitersebut menggelengkan kepala tanda tidak sanggup melaksanakannya.

MakaRasulullah memberikan alternatif kedua, yaitu puasa selama dua bulanberturut-turut. Lagi-lagi lelaki tersebut menggeleng. Ia merasa tidak mampu untukmelakukannya. Dalam hatinya ia berkata, ‘Jangankan dua bulan, sedang yang satubulan saja sudah dilanggar.’ Rasulullah menawarkan solusi ketiga, yaitu memberimakan 60 orang fakir miskin. Untuk yang ketiga kalinya ia mengatakan tidaksanggup. Ia katakan bahwa untuk kebutuhan makan sehari-hari saja sudah seringmendapati kesulitan. Apalagi harus memberi makan kepada orang lain.

Denganpenuh kasih sayang Rasulullah kemudian memanggil istrinya agar mengambil bahanmakanan yang masih tersisa di rumahnya hingga cukup untuk menebus kewajibanlelaki tersebut. Sambil memberikannya, Rasulullah berpesan agar bahan makananitu dibagikannya kepada fakir miskin di kampungnya. Dengan sedikit menahanmalu, lelaki tersebut berkata polos, “Di kampung kami, orang yang paling miskinadalah saya sendiri.”Kepolosan lelaki itu ternyata membawa berkah tersendiri.Rasulullah menyampaikan agar bahan makanan itu diterima dan dimanfaatkansepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya. Ia pulang dengan perasaansuka cita. Selain mendapatkan bahan makanan, puasanya juga sudah tertebus. Duakeuntungan sekaligus diperoleh, keuntungan materi sekaligus keuntungan ukhrawi.

Kisahseperti ini rasanya sulit dimengerti untuk ukuran sekarang. Bagaimana seorangpemimpin dapat berlaku begitu santun. Sulit ditemukan sosok pemimpin yangluwes, lapang dada, santun, dan sabar memenuhi segala tuntutan ummatnyasebagaimana Rasulullah. Andaikata menemui lelaki seperti dalam kisah di atas,barangkali kita akan menghardiknya dengan kata-kata kasar, “Sudah tahu tidakmampu menebus dendanya, kenapa kamu sampai melanggar?” Atau kita katakan,“Pokoknya itulah ketentuan syariat, titik. Dengan cara apapun harus kamuupayakan. Pokoknya nggak mau tahu salahmu sendiri melanggar. Rasain sendiriakibatnya habis macam-macam saja.” Jangankan ikut membantu meringankan bebannyadengan memberi bahan makanan, memberi santunan dengan kata-kata yang halus danmenghibur saja mungkin sulit kita lakukan.

Disinilah terletak rahasia sukses kepemimpinan Rasulullah. Beliau bisa bersikaptegas, tapi lebih sering bersikap lemah-lembut kepada ummatnya. Justru sikapyang terakhir itu lebih dikedepannya dalam menghadapi setiap persoalan. Beliaubisa marah, tapi sikap pemaafnya jauh lebih luas dari segalanya. Apalagi jikaberhadapan dengan sesama ummat Islam. Allah sendiri menegaskan: “Muhammad ituadalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah kerasterhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka.” (QS.al-Fath: 29)

Itulahsebabnya Rasulullah sangat dicintai ummatnya. Saking cintanya, dalam sebuahbai’at, seorang lelaki pernah mengatakan, “Andaikata kita menyeberangi lautandengan kapal, kemudian di tengah lautan kita diperintahkan oleh Rasulullahuntuk mencebur ke laut, pasti kita lakukan.” Kepada ummatnya, Rasulullah selalumengedepankan sifat kasih sayang. Beliau berusaha mempermudah ummatnya dalammelaksanakan syariat agama. Bukan sebaliknya, memberi beban yang akhirnya takmampu dipikul oleh mereka.

KetikaIsra’ dan Mi’raj Rasulullah menyampaikan usulan kepada Allah agar ummatnyadiberi beban yang tidak terlalu berat dalam menunaikan ibadah shalat. Akhirnyaditetapkan shalat lima kali dalam sehari, sebagai suatu kewajiban yang sangatringan. Jika masih ada yang merasa keberatan, barangkali nafsunya yang terlaludominan.

Suatusaat beliau hendak mewajibkan bersiwak (gosok gigi) bagi kaum muslimin setiaphendak mendirikan shalat. Akan tetapi karena takut kewajiban itu memberatkan,maka akhirnya tidak beliau undangkan, meskipun bersiwak itu manfaatnya sangatbesar dalam upaya menjaga kesehatan. Bagi yang bersiwak disiapkan pahala besar,sementara yang tidak melakukannya juga tidak diancam apa-apa. Akhirnya bersiwakhanya menjadi anjuran. Sikap demikian itu sejalan dengan ketentuan Allah, yangdinyatakan dalam al-Qur’an: “Allah menginginkan kemudahan bagimu, dan tidakmenginginkan kesulitan bagimu.” (QS. al-Baqarah: 185)

KetikaRasulullah mengutus dua orang sahabat, yaitu Abu Musa dan Mu’adz ke Yaman untukberdakwah, beliau berpesan, “Gembirakanlah dan jangan kau takut-takuti.Mudahkanlah dan janganlah engkau mempersulit.”

Tugasseorang da’i, muballigh, ustadz atau guru agama adalah memberi jalan kemudahanbagi ummat Islam agar dapat menjalankan perintah Islam dengan sebaik-baiknya.Dalam hal ini, seorang juru dakwah wajib mempunyai bekal ilmu yang cukup, disamping sikap yang arif. Ilmu yang luas menjadikan seseorang lebih bisabersikap luwes dan lapang dada. Sementara ilmu yang hanya pas-pasan biasanyamendorong seseorang bersikap keras dalam menghadapi suatu persoalan.

Luasnyailmu dan wawasan akan nampak dalam sikapnya yang toleran. Dalam menghadapipersoalan ia tidak hanya menyodorkan satu alternatif, tapi tersedia berbagaipilihan. Orang lain diberi kebebasan untuk memilih sesuai kadar iman dan kemampuannya.

Allahsendiri ketika menyerukan hamba-Nya untuk bertaqwa, Dia menggunakan dua kalimatperintah. Pertama, Allah berfirman, “Bertaqwalah kamu sekuat kemampuanmu.”Kedua, Allah berseru, “Bertaqwalah kalian dengan sebenar-benar taqwa, danjanganlah kalian mati sehingga kalian benar-benar Islam.” Yang pertamaditujukan kepada mereka yang kadar imannya masih dalam proses penyempurnaan,sementara firman kedua ditujukan kepada mereka yang sudah siap menerima segalaperintah dan larangan-Nya tanpa reserve.

Nabisaw juga menerapkan hal sama. Dalam menghadapi satu pertanyaan yang diajukanoleh dua orang berbeda, jawaban Nabi juga selalu berbeda, disesuaikan dengankadar akal dan imannya. Nabi tidak memaksakan seseorang menerima hal yang sama,padahal kemampuan mereka untuk menerimanya sangat jauh berbeda. Di siniRasulullah sangat memperhatikan “proses”, bukan hasil semata-mata.

Dalamkaitannya dengan persoalan di atas, dianjurkan kepada juru dakwah, guru agama,atau muballigh agar lebih bijak dalam menyampaikan persoalan-persoalan agama.Jika ada dua pilihan, kenapa harus kita pilihkan satu saja? Bukankah merekajuga berhak memilih sesuai dengan kondisi dan keadaannya?

Bahkandalam hal ini, jika ada dua perkara yang sama-sama diperbolehkan oleh syariat,hendaknya kita memilih yang termudah. Kita tidak boleh bersikap terlalu keras,karena yang demikian itu justru menyimpang dari sunnah. Sikap tasyaddud,ekstrim, dan berlebih-lebihan sebagai cerminan kerasnya hati dan keringnya rasaempati sama sekali tidak disukai oleh Rasulullah. Selama tidak mengandung dosa,Rasulullah lebih memilih yang termudah dari dua perkara yang sama-sama boleh,ibahah. Sikap itulah yang hendaknya kita pilih, bukan sebaliknya. Dalam sebuahpesannya, beliau bersabda: “Hendaklah kamu bersikap lemah-lembut dan janganbersikap kasar. Sesungguhnya, tidaklah sikap lemah lembut itu ada pada sesuatukecuali menghiasinya, dan tidak pula ia lepas dari sesuatu kecualimengotorinya.” (HR Muslim)

Sikappara elit, tokoh, ulama, da’i, muballigh, pemimpin dan guru yang lebih menyukaisesuatu yang berat dan minim jiwa empati dalam menjalankan dan menegakkanrisalah kebenaran pada dasarnya tidak sesuai dengan sunnah, keluar dari teladanRasulullah saw. Sikap demikian sesungguhnya lebih terkait dengan kejiwaan.Itulah sebabnya, seorang muslim dianjurkan untuk terus-menerus melakukanpembersihan hati, tazkiyah, agar memiliki jiwa yang bersih, dada yang lapang,dan hati yang dipenuhi rasa kasih dan sayang.

Jikaada benih-benih keinginan untuk mempersulit atau memperberat suatu perkara,hendaknya para da’i segera meminta perlindungan dari Allah, memperbaharui iman,dan mensucikan hati dari sifat dendam dan iri hati. Jauhkanlah diri dari tipudaya setan. Sesungguhnya kita memerlukan ruh dari langit sehingga dapatmenempuh jalan dien ini dengan mudah. Hal itu dapat kita peroleh jika kitamemenuhi rongga dada kita dengan sifat kasih sayang, terutama pada dirisendiri. Caranya, jangan memaksakan diri, tidak mengangkat beban di luarkemampuan kita yang sebenarnya. Jika terhadap diri sendiri, kita sudah bersikapkasih dan sayang, maka kepada orang lain juga kita kembangkan sikap yang sama.Kasih sayang itu akan mengarahkan kita kepada sikap yang menghormati kemampuandan keterbatasan orang lain. Jika dengan semua orang kita harus bersikap empatitermasuk dalam merealisasikan dan menyebarkan pemikiran dan pemahaman kita,maka dengan orang-orang terdekat yang kita kasihi seharusnya lebih sensitif danpeka dalam empati dan tidak asal memaksakan kehendak dan ego.

StephenR. Covey (1999) mengingatkan kita untuk memahami implementasi makna empatisecara benar. Kebanyakan dari kita tidak berusaha untuk memahami dahulu, tetapisebaliknya ingin dipahami dahulu posisi dan pemikiran kita. Atau jika kitaingin berusaha memahami, kita sering sibuk mempersiapkan tanggapan kita danreaktif saat kita menyaksikan kejadian, menghadapi sikap atau mendengarkanpernyataan orang lain. Jadi, kita lebih sering mengevaluasi, menyarankan,menyelidiki, atau menerjemahkan dari sudut pandang kita sendiri sebelummemahami konsideran sikap dan peristiwa serta kesejatian masalah. Dan tidaksatu pun dari ini adalah tanggapan empatik yang memahami. Semuanya berasal darikesejatian diri kita, dunia kita dan nilai-nilai kita secara searah.

Dalamrangka mengasah empati itulah diperlukan riyadhah melatih diri dalam memberipetunjuk kepada siapa saja yang mendapati kesulitan, memaafkan atas semuakekhilafan, berlapang dada atas segala kealpaan, menuntun orang ke jalan yangterang tanpa harus mencari-cari kesalahan dan membuka aibnya. Bukankah Allahselalu berpesan: “Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaranyang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya TuhanmuDialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya danDialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.An-Nahl:125), dan telah menegaskan: “Siapakah yang lebih baik perkataannyadaripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, danberkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS.Fushshilat:33). []

SISWA MEMBAYAR ONGKOS PARKIR DISEKOLAH


Pernahkah terbayang dibenak anda, berapa pendapatan pemerintah dari perolehan parkir yang ada di jalan raya, belum lagi dari pajak yang peroleh dari parkir yang dikelola swasta . Tentunya tidaklah sedikit. Ketika mengangan- angankan tentang pendapatan parkir, saya tergelitik memperhatikan banyaknya motor yang terparkir dihalaman kelas di SMP 6 Jember. “kalau satu motor Rp. 500 atau Rp.1000 dalam sebulan bisa terbayang berapa penghasilan sekolah ini, lumayan bisa digunakan untuk kegiatan siswa” bayanganku sambil tertawa-tawa sendiri.

Saya ingin mengajak teman-teman semua keluar kelas, dan coba perhatikan halaman kelas kita, tak lagi nyaman untuk

bermain atau sekedar berjalan-jalan melepas penat ketika usai belajar/istirahat. Bila ditanya kenapa? Jawabannya jelas karena halaman kelas kita sudah dipenuhi oleh motor-motor para siswa dan juga motor bapak /ibu guru serta karyawan SMP 6 Jember.

Sudah tidak ada lagi halaman kosong di sekolah ini. Jangankan untuk bermain bola, upacara bendera tiap hari senin saja kita harus berdesakkan, sampai-sampai telinga kami tebal akibat seringnya dimarahi oleh bapak ibu guru yang jengkel melihat tingkah kami pada saat upacara yang sulit sekali tertib. “mohon maaf bapak dan ibu guru, bukannya kami tidak bisa tertib, namun situasi yang mengkondisikan kami seperti ini”. Selain tempat olahraga dan upacara yang menemui kesulitan, kami juga kesulitan berekspresi dilingkungan sekolah yang kian menyempit saja rasanya.

Dalam khayalan sempat terfikir, saya membuat lahan parkir di bawah tanah di SMP 6 Jember, lalu bagi siswa yang mau parkir motor harus membayar ke saya hehehehhe….”bisa kaya dong”. itu karena sudah tidak ada lagi jalan keluar yang bisa diambil dari logika berfikir saya, jangankan saya, bapak kepala sekolah saja masih pusing memfikirkannya kecuali alternative ekstrime yakni siswa dilarang membawa motor ke sekolah….ekstrime sekali mungkin pendapat saya….tapi mau bagaimana lagi, sedang tempat

parkir kita sudah berubah menjadi gedung. Apakah teman-teman punya saran…..? nah silahkan kirim ke kotak redaksi keris sena….biar bukan hanya saya yang pusing hehhehehe……..


Previous Older Entries