Mengasah Empati Berbagi Simpati

Tazkiyatun NufusOleh:Dr. Setiawan Budi Utomo


dakwatuna.com– Sering kaliseseorang menilai dengan parameter subjektif dan melihat orang lain dengankacamata kuda sehingga tidak jarang salah memahami dan menyikapi peristiwasecara tidak arif. Hal itu karena minimnya kesadaran empati dalam memahamikelemahan, kesalahan, kekurangan, kejahilan dan kenaifan orang lain yangsebenarnya boleh jadi merupakan ujian kepekaan dan kejelian dalam mendulanghikmah dan pelajaran di balik berbagai peristiwa yang dilakoni orang lain tadi,alih-alih menjulurkan simpati. Empati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa ataumengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama denganorang atau kelompok lain. Simpati dalam KBBI diartikan sebagai:

1.rasa kasih; rasa setuju (kepada); rasa suka

2.keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dsb) orang lain: rakyat yangmenderita akibat bencana alam itu mendapat simpati dari berbagai kalangan.

Suatuketika para sahabat yang sedang berada di masjid Nabawi terusik kesyahduandzikir mereka dan spontanitas bereaksi emosional tatkala seorang laki-laki Arabbadui tiba-tiba berulah kencing di dalam masjid yang saat itu lantainya masihberupa tanah. Demi melihat situasi panas tersebut Rasulullah saw dengan penuhempati dan kelembutan menyikapi dan meluruskan peristiwa tesa dan antitesasikap reaksi berang sahabat dan aksi bodoh Arab badui tersebut. Beliaumemerintahkan para sahabat untuk bersabar dan membiarkan Arab baduimenyelesaikan hajatnya serta meminta mereka menyiram bekas kencingnya agarmerembes ke tanah dan hilang najisnya. Setelah situasi reda dan dapat diatasi,Rasulullah segera memanggil mereka semua. Beliau memberikan bimbingan kepadapara sahabat tentang sikap empatik yang akan membawa hikmah yaitu denganmemaklumi ketidaktahuan Arab badui tersebut, menyadari reaksi kesabaran akandapat menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.

Parasahabat akhirnya mengerti bahwa sikap empati yang membuahkan solusi masalahdengan menyiram dan membersihkan kencing sebagai pelajaran bagi si badui bahwaperbuatannya tidak benar yang telah mengotori tempat yang seharusnya dijagakesuciannya. Selain itu, mereka menyadari bahwa bersabar menanti selesainyakencing si badui akan menghindari tiga mudharat yakni gusarnya si badui yangmerasa terusik hajatnya, menyakiti saluran kencing si badui yang terganggukelancarannya, dan meluasnya area najis akibat kepanikan si badui dalammenuntaskan hajatnya. Kepada si badui Nabi saw memberikan pemahaman secarahalus bahwa perbuatannya tidak benar karena telah kencing di masjid dan itutidak pada tempatnya sebab masjid dibangun sebagai tempat suci untuk dzikrullahdan shalat. Jelang mendapat penjelasan empatik Nabi, si badui sangat terpesonapadanya dan sebaliknya masih kecewa dengan sikap berang sahabat seraya berdoa“Ya Allah masukkanlah aku dan Muhammad ke dalam surga dan janganlah Engkaumasukkan ke dalamnya seorang pun selain kami.” Lagi-lagi demi mendengar doayang tidak arif itupun nabi menyikapinya dengan penuh empati demi melihatkenaifannya tanpa membodoh-bodohkannya seraya meluruskan doanya: “Wahai kamu,ketahuilah bahwa surga itu sangat luas dan jika kita berdua saja yang masukniscaya akan sangat kesepian”.

Padasaat yang lain, kita saksikan sejarah Nabi yang telah membuktikan samudera jiwaempati tatkala seorang laki-laki dengan langkah tergesa-gesa menghadapnya.Nafasnya masih tersengal, turun-naik, sementara jantungnya berdetak cepat.Rasulullah menyambutnya dengan penuh santun. “Celaka bagi kami, wahaiRasulullah,” begitu ia mengawali pembicaraannya. “Aku telah melakukan hubungansuami-istri di siang Ramadhan.” Nampaknya lelaki ini sadar bahwa perbuatannyatelah melanggar syariah, yang karenanya ia harus menerima sanksi Rasulullahkemudian memberi petunjuk agar lelaki itu memerdekakan seorang budak. Lelakitersebut menggelengkan kepala tanda tidak sanggup melaksanakannya.

MakaRasulullah memberikan alternatif kedua, yaitu puasa selama dua bulanberturut-turut. Lagi-lagi lelaki tersebut menggeleng. Ia merasa tidak mampu untukmelakukannya. Dalam hatinya ia berkata, ‘Jangankan dua bulan, sedang yang satubulan saja sudah dilanggar.’ Rasulullah menawarkan solusi ketiga, yaitu memberimakan 60 orang fakir miskin. Untuk yang ketiga kalinya ia mengatakan tidaksanggup. Ia katakan bahwa untuk kebutuhan makan sehari-hari saja sudah seringmendapati kesulitan. Apalagi harus memberi makan kepada orang lain.

Denganpenuh kasih sayang Rasulullah kemudian memanggil istrinya agar mengambil bahanmakanan yang masih tersisa di rumahnya hingga cukup untuk menebus kewajibanlelaki tersebut. Sambil memberikannya, Rasulullah berpesan agar bahan makananitu dibagikannya kepada fakir miskin di kampungnya. Dengan sedikit menahanmalu, lelaki tersebut berkata polos, “Di kampung kami, orang yang paling miskinadalah saya sendiri.”Kepolosan lelaki itu ternyata membawa berkah tersendiri.Rasulullah menyampaikan agar bahan makanan itu diterima dan dimanfaatkansepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya. Ia pulang dengan perasaansuka cita. Selain mendapatkan bahan makanan, puasanya juga sudah tertebus. Duakeuntungan sekaligus diperoleh, keuntungan materi sekaligus keuntungan ukhrawi.

Kisahseperti ini rasanya sulit dimengerti untuk ukuran sekarang. Bagaimana seorangpemimpin dapat berlaku begitu santun. Sulit ditemukan sosok pemimpin yangluwes, lapang dada, santun, dan sabar memenuhi segala tuntutan ummatnyasebagaimana Rasulullah. Andaikata menemui lelaki seperti dalam kisah di atas,barangkali kita akan menghardiknya dengan kata-kata kasar, “Sudah tahu tidakmampu menebus dendanya, kenapa kamu sampai melanggar?” Atau kita katakan,“Pokoknya itulah ketentuan syariat, titik. Dengan cara apapun harus kamuupayakan. Pokoknya nggak mau tahu salahmu sendiri melanggar. Rasain sendiriakibatnya habis macam-macam saja.” Jangankan ikut membantu meringankan bebannyadengan memberi bahan makanan, memberi santunan dengan kata-kata yang halus danmenghibur saja mungkin sulit kita lakukan.

Disinilah terletak rahasia sukses kepemimpinan Rasulullah. Beliau bisa bersikaptegas, tapi lebih sering bersikap lemah-lembut kepada ummatnya. Justru sikapyang terakhir itu lebih dikedepannya dalam menghadapi setiap persoalan. Beliaubisa marah, tapi sikap pemaafnya jauh lebih luas dari segalanya. Apalagi jikaberhadapan dengan sesama ummat Islam. Allah sendiri menegaskan: “Muhammad ituadalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah kerasterhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka.” (QS.al-Fath: 29)

Itulahsebabnya Rasulullah sangat dicintai ummatnya. Saking cintanya, dalam sebuahbai’at, seorang lelaki pernah mengatakan, “Andaikata kita menyeberangi lautandengan kapal, kemudian di tengah lautan kita diperintahkan oleh Rasulullahuntuk mencebur ke laut, pasti kita lakukan.” Kepada ummatnya, Rasulullah selalumengedepankan sifat kasih sayang. Beliau berusaha mempermudah ummatnya dalammelaksanakan syariat agama. Bukan sebaliknya, memberi beban yang akhirnya takmampu dipikul oleh mereka.

KetikaIsra’ dan Mi’raj Rasulullah menyampaikan usulan kepada Allah agar ummatnyadiberi beban yang tidak terlalu berat dalam menunaikan ibadah shalat. Akhirnyaditetapkan shalat lima kali dalam sehari, sebagai suatu kewajiban yang sangatringan. Jika masih ada yang merasa keberatan, barangkali nafsunya yang terlaludominan.

Suatusaat beliau hendak mewajibkan bersiwak (gosok gigi) bagi kaum muslimin setiaphendak mendirikan shalat. Akan tetapi karena takut kewajiban itu memberatkan,maka akhirnya tidak beliau undangkan, meskipun bersiwak itu manfaatnya sangatbesar dalam upaya menjaga kesehatan. Bagi yang bersiwak disiapkan pahala besar,sementara yang tidak melakukannya juga tidak diancam apa-apa. Akhirnya bersiwakhanya menjadi anjuran. Sikap demikian itu sejalan dengan ketentuan Allah, yangdinyatakan dalam al-Qur’an: “Allah menginginkan kemudahan bagimu, dan tidakmenginginkan kesulitan bagimu.” (QS. al-Baqarah: 185)

KetikaRasulullah mengutus dua orang sahabat, yaitu Abu Musa dan Mu’adz ke Yaman untukberdakwah, beliau berpesan, “Gembirakanlah dan jangan kau takut-takuti.Mudahkanlah dan janganlah engkau mempersulit.”

Tugasseorang da’i, muballigh, ustadz atau guru agama adalah memberi jalan kemudahanbagi ummat Islam agar dapat menjalankan perintah Islam dengan sebaik-baiknya.Dalam hal ini, seorang juru dakwah wajib mempunyai bekal ilmu yang cukup, disamping sikap yang arif. Ilmu yang luas menjadikan seseorang lebih bisabersikap luwes dan lapang dada. Sementara ilmu yang hanya pas-pasan biasanyamendorong seseorang bersikap keras dalam menghadapi suatu persoalan.

Luasnyailmu dan wawasan akan nampak dalam sikapnya yang toleran. Dalam menghadapipersoalan ia tidak hanya menyodorkan satu alternatif, tapi tersedia berbagaipilihan. Orang lain diberi kebebasan untuk memilih sesuai kadar iman dan kemampuannya.

Allahsendiri ketika menyerukan hamba-Nya untuk bertaqwa, Dia menggunakan dua kalimatperintah. Pertama, Allah berfirman, “Bertaqwalah kamu sekuat kemampuanmu.”Kedua, Allah berseru, “Bertaqwalah kalian dengan sebenar-benar taqwa, danjanganlah kalian mati sehingga kalian benar-benar Islam.” Yang pertamaditujukan kepada mereka yang kadar imannya masih dalam proses penyempurnaan,sementara firman kedua ditujukan kepada mereka yang sudah siap menerima segalaperintah dan larangan-Nya tanpa reserve.

Nabisaw juga menerapkan hal sama. Dalam menghadapi satu pertanyaan yang diajukanoleh dua orang berbeda, jawaban Nabi juga selalu berbeda, disesuaikan dengankadar akal dan imannya. Nabi tidak memaksakan seseorang menerima hal yang sama,padahal kemampuan mereka untuk menerimanya sangat jauh berbeda. Di siniRasulullah sangat memperhatikan “proses”, bukan hasil semata-mata.

Dalamkaitannya dengan persoalan di atas, dianjurkan kepada juru dakwah, guru agama,atau muballigh agar lebih bijak dalam menyampaikan persoalan-persoalan agama.Jika ada dua pilihan, kenapa harus kita pilihkan satu saja? Bukankah merekajuga berhak memilih sesuai dengan kondisi dan keadaannya?

Bahkandalam hal ini, jika ada dua perkara yang sama-sama diperbolehkan oleh syariat,hendaknya kita memilih yang termudah. Kita tidak boleh bersikap terlalu keras,karena yang demikian itu justru menyimpang dari sunnah. Sikap tasyaddud,ekstrim, dan berlebih-lebihan sebagai cerminan kerasnya hati dan keringnya rasaempati sama sekali tidak disukai oleh Rasulullah. Selama tidak mengandung dosa,Rasulullah lebih memilih yang termudah dari dua perkara yang sama-sama boleh,ibahah. Sikap itulah yang hendaknya kita pilih, bukan sebaliknya. Dalam sebuahpesannya, beliau bersabda: “Hendaklah kamu bersikap lemah-lembut dan janganbersikap kasar. Sesungguhnya, tidaklah sikap lemah lembut itu ada pada sesuatukecuali menghiasinya, dan tidak pula ia lepas dari sesuatu kecualimengotorinya.” (HR Muslim)

Sikappara elit, tokoh, ulama, da’i, muballigh, pemimpin dan guru yang lebih menyukaisesuatu yang berat dan minim jiwa empati dalam menjalankan dan menegakkanrisalah kebenaran pada dasarnya tidak sesuai dengan sunnah, keluar dari teladanRasulullah saw. Sikap demikian sesungguhnya lebih terkait dengan kejiwaan.Itulah sebabnya, seorang muslim dianjurkan untuk terus-menerus melakukanpembersihan hati, tazkiyah, agar memiliki jiwa yang bersih, dada yang lapang,dan hati yang dipenuhi rasa kasih dan sayang.

Jikaada benih-benih keinginan untuk mempersulit atau memperberat suatu perkara,hendaknya para da’i segera meminta perlindungan dari Allah, memperbaharui iman,dan mensucikan hati dari sifat dendam dan iri hati. Jauhkanlah diri dari tipudaya setan. Sesungguhnya kita memerlukan ruh dari langit sehingga dapatmenempuh jalan dien ini dengan mudah. Hal itu dapat kita peroleh jika kitamemenuhi rongga dada kita dengan sifat kasih sayang, terutama pada dirisendiri. Caranya, jangan memaksakan diri, tidak mengangkat beban di luarkemampuan kita yang sebenarnya. Jika terhadap diri sendiri, kita sudah bersikapkasih dan sayang, maka kepada orang lain juga kita kembangkan sikap yang sama.Kasih sayang itu akan mengarahkan kita kepada sikap yang menghormati kemampuandan keterbatasan orang lain. Jika dengan semua orang kita harus bersikap empatitermasuk dalam merealisasikan dan menyebarkan pemikiran dan pemahaman kita,maka dengan orang-orang terdekat yang kita kasihi seharusnya lebih sensitif danpeka dalam empati dan tidak asal memaksakan kehendak dan ego.

StephenR. Covey (1999) mengingatkan kita untuk memahami implementasi makna empatisecara benar. Kebanyakan dari kita tidak berusaha untuk memahami dahulu, tetapisebaliknya ingin dipahami dahulu posisi dan pemikiran kita. Atau jika kitaingin berusaha memahami, kita sering sibuk mempersiapkan tanggapan kita danreaktif saat kita menyaksikan kejadian, menghadapi sikap atau mendengarkanpernyataan orang lain. Jadi, kita lebih sering mengevaluasi, menyarankan,menyelidiki, atau menerjemahkan dari sudut pandang kita sendiri sebelummemahami konsideran sikap dan peristiwa serta kesejatian masalah. Dan tidaksatu pun dari ini adalah tanggapan empatik yang memahami. Semuanya berasal darikesejatian diri kita, dunia kita dan nilai-nilai kita secara searah.

Dalamrangka mengasah empati itulah diperlukan riyadhah melatih diri dalam memberipetunjuk kepada siapa saja yang mendapati kesulitan, memaafkan atas semuakekhilafan, berlapang dada atas segala kealpaan, menuntun orang ke jalan yangterang tanpa harus mencari-cari kesalahan dan membuka aibnya. Bukankah Allahselalu berpesan: “Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaranyang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya TuhanmuDialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya danDialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.An-Nahl:125), dan telah menegaskan: “Siapakah yang lebih baik perkataannyadaripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, danberkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS.Fushshilat:33). []